QOWAIDUL ARBA 1

102 Pembaca

بسم الله الرحمن الرحيم

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة, وأن يجعلك مباركا أينما كنت, وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر, وإذا ابتلي صبر, وإذا أذنب استغفر, فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

الحمد لله وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم, أما بعد

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan nikmat-nikmatnya kepada kita semua, shalawat dan salam kita haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan kepada para pengikutnya sampai hari kiamat kelak. Amin.

Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab mengawali risalahnya qowa’idul arba’ dengan basmallah, kemudian mendoakan para penuntut ilmu supaya dilindungi Allah subhanahu wa ta’ala, supaya diberkahi, supaya bersyukur ketika mendapat nikmat, supaya bersabar ketika ditimpa musibah, dan supaya bisa bertaubat ketika berbuat maksiat kepada-Nya. hal ini menunjukkan betapa beliau sangat mencintai para penuntut ilmu dan ingin supaya para penuntut ilmu itu selalu mendapatkan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.

Beliau berdoa kepada Allah subahanhu wa ta’ala dengan bertawasul menggunakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tawasul seperti diperbolehkan dalam syari’at islam beliau berdoa,

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم

“Aku memohon kepada Allah Tuhannya ‘arsyi yang agung”.

Beliau berdoa kepada Allah dengan bertawasul menggunakan nama dan sifat-Nya yaitu alkarim alkarim dan ar-Robb, Tuhan pemilik ‘arsyi.

‘Arsyi merupakan makhluk Allah yang paling besar, yang sangat mulia dan agung. Allah berfirman,

رَبُ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. التوبة: 129

“Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” QS: at-Tsaubah: 129.

رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ. المؤمنون: 116

“Pemilik ‘Arasy yang mulia.” QS: al-Mukminun: 116.

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ. البروج: 15

“Pemilik ʻArasy lagi Maha Mulia,” QS: al-Buruj: 15.

Kemudian beliau berdoa, أن يتوالاك في الدنيا واللآخرة “Supaya Allah subhanahu wa ta’ala melindungimu di dunia dan akhirat” orang-orang yang mendapat perlindungan dari Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dan di akhirat maka ia akan terjaga dari keburukan dunia dan keburukan akhirat, sehingga ia akan menjadi orang-orang yang beruntung dan sukses. dan Dia adalah sebaik-baiknya pelindung, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَوْلٰىكُمْ ۗنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. الأنفال: 40

Jika mereka berpaling, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” QS: al-Anfal:40.

وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ. آل عمران: 68

“Allah adalah pelindung orang-orang mukmin.” Ali Imron; 68.

Orang-orang yang pelindungnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala dia termasuk orang mukmin, Nabi Yusuf berkata,

 رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ. يوسف: 101.

Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.” QS: Yusuf:101.

Dan orang-orang mukmin yang bertakwa, yang tunduk dan patuh kepada perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangannya dia termasuk wali Allah subhanahu wa ta’ala. Syaikul Islam ibnu Taimiyah berkata, “Orang yang beriman dan bertakwa adalah wali Allah subhanahu wa ta’ala.” dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ, يونس: 62-63

Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. QS: Yunuis: 62-63.

Orang-orang yang pelindungnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala akan diperbaiki dan dimudahkan semua urusannya serta akan dicukupi kebutuhan-kebutuhannya.

نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ ۗ. فصلت: 31

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta. QS: Fushilat; 31.

Lalu berdoa,

وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُىتَ

“Dan menjadikanmu sebagai orang yang diberkahi dimanapun kamu berada”

ini merupakan doa beliau yang kepada para penuntut ilmu supaya mereka diberkahi dan bermanfaat dimanapun mereka berada, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Isa ‘alaihissalam ketika memuji-Nya,

وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ. مريم: 31

Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.” QS: Maryam: 31.

Doa ini mengandung kesholihan, orang-orang mukmin yang shalih dan bertakwa akan diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dimanapun mereka berada, dia akan bermanfaat bagi keluarganya dan sahabat-sahabatnya, ia akan mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, tidak akan terdengar darinya kata-kata yang buruk, perbuatannya mencerminkan kebaikan, tidak suka mencaci, tidak suka melaknat dan tidak suka berkata kotoh, ia akan berakhlak mulia.

Karena ada sebagian orang yang sukanya bebuat buruk kepada teman-temannya dan keluarganya dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan mengucapkan kata-kata yang tidak baik.

Kemudian beliau berdoa,

وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ أُعْطِيَ شَكَرَ وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ وَإِذَا أَذْنَبَ اِسْتَغْفَرَ

“Dan menjadikanmu orang yang jika diberi nikmat bersyukurو jika diberi ujian bersabar dan jika berbuat dosa segera beistighfar minta ampun.”

Beliau berdoa seperti itu karena kehidupan manusia berkisar antara tiga perkara tersebut yaitu, nikmat, musibah dan dosa.

Termasuk nikmat adalah melaksanakan ketaatan kepada-Nya bahkan nikmat yang paling agung dan paling besar adalah nikmat iman dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang mukmin harus bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika tertimpa musibah dan bertaubat serta beristighfar minta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika berbuat dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ. آل عمران: 135

Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya). QS: Ali Imron 135.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِن; إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ, وَلَيْسَ ذَاكَ إِلّا لِلْمُؤْمِنِ; إِنْ أََصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ, وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. رواه مسلم

“Sangat mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya semua perkaranya baik, tidak ada perkara yang seperti itu kecuali bagi orang mukmin, jika mendapat kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginay dan jika tertimpa musibah ia bersabar dan itu baik baginya.” HR: Muslim.

Beliau mendoakan para penuntut ilmu supaya menjadai orang yang apabila diberi nikmat oleh Allah subhanahu wa ta’ala bersyukur dan menggunakannya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah.

Hendaknya demikianlah orang mukmin itu jika diberi nikmat bersyukur dan menggunakan kenikmatan-kenikmatan tersebut untuk menopang ketaatan kepada-Nya bukan untuk melakukan kemaksiatan.

Beliau juga mendoakan para penuntut ilmu jika mendapat ujian bisa bersabar terhadap ujian tersebut, dan mampu menahan lisan dan perbuatannya dari sesuatu yang buruk dan diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Beliau juga mendoakan para penuntut ilmu jika berbuat dosa segera bertaubat, beristiughfar dan tidak menunda-nundanya.

Perkataan beliau فَإِنَّ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثِ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ “Sesungguhnya ketiga perkara tersebut adalah tanda kebahagiaan”.

Tentu orang-orang yang memiliki ketika perkara ini ia akan mendapatkan kebahagiaan karena ketiga perkara tersebut merupakan tanda kebahagiaan seseorang, jika mendapat nikmat bersyukur, jika mendapat ujian bersabar dan jika berbuat dosa segera bertobat dan beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Marilah kita menjadi orang-orang yang pandai bersyukur, bersabar dan bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya kita mendapat kebahagiaan hakiki di dunia ini dan di akhirat kelak. Amin.

Abu Layla Turahmin, M.H.

Pesantren Bin Baz, Jum’at, 18 agustus 2023, 15.20.

Disarikan dari syarah kitab qowaidil arba’ Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrok.

Tinggalkan komentar