DAMPAK BURUK DOSA SYIRIK

58 Pembaca

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.

‘Ibadallah… jama’ah jum’at rohimani wa rohimakumulahu jami’an…

Pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman dan nikmat islam dua buah nikmat yang sangat agung yang diberikan kepada kita, yang tidak boleh kita tukar dengan nikmat dunia apapun, nikmat ini harus kita jaga dan kita rawat dengan baik sampai ajal menjemput kita semua.

Tidak lupa pula saya selaku khotib pada kesempatan jum’at ini mengingatkan kembali kepada diri khotib pribadi dan kepada jama’ah jum’at sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena takwa merupakan sebaik-baiknya bekal bagi kita untuk menjalani kehidupan di dunia ini maupun kehidupan di akhirat kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).

Berbekal ketakwaan adalah dengan cara melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala berdasarkan cahaya dari-Nya dan mengharapkan pahala dari-Nya pula, dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala berdasarkan ilmu dari-Nya dan karena takut akan azab-Nya.

Kemudian shalawat dan salam kita haturkan kepada baginda Nabi kita yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah menyampaikan risalah dari Allah subhanahu wa ta’ala sehingga kita bisa merasakan manisnya iman dan indahnya agama islam.

Jama’ah jum’at rahimani wa rahimakumullahu jami’an….

Dosa

Dosa merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, perbuatan dosa beraneka ragam, ada dosa kecil, ada dosa besar dan ada dosa yang paling besar atau biasa disebut akbarul kabair, bahkan ada dosa yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah subhanahu wa ta’a.

Dosa apakah itu yang tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala?

Dosa yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah dosa syirik yaitu menyekutukan Allah subhaahu wa ta’ala, dosa yang mendapat ancaman azab yang sangat pedih, dosa yang menyebabkan kekal di dalam api neraka, dosa yang akan menyebabkan terhapusnya seluruh amal baik yang telah dikerjakan, dosa yang paling besar, dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala kecuali jika pelakunya bertaubat, akan tetapi jika pelakunya tidak/belum bertaubat sampai ajal menjemputnya maka dosa itu tidak akan diampuni, pelakunya akan kekal di Neraka dan telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh dan dosa yang pelakunya seperti orang yang jatuh dari langit kemudian disambar seekor burung atau ditiup angin dan dijatuhkan di tempat yang jauh.

Dosa syirik merupakan dosa yang paling besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ. رواه البحاري: 5976

“Maukah akau kabarkan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?”, kamu menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” beliai bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua,” pada saat itu beliau bersandar kemudian duduk, lalu berkata: “Perkataan dusta dan saksi palsu, perkataan dusta dan saksi palsu, perkataan dusta dan sakdi palsu.” Beliau terus saja mengulang-ulangnya, hingga saya mengira beliau tidak akan diam. HR: Bukhori: 5976.

Dosa syirik harus dijauhi sejauh-jauhnya karena pelakunya mendapat ancaman yang sangat berat, ancaman tersebut sebagai berikut:

1. Mendapat Azab yang Sangat Pedih

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلَاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ {المائدة: 73}.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang hak/benar) selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Perkataan itu adalah perkataan orang-orang Nashoro yang selalu mereka dengung-dengungkan, mereka menganggap bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah salah satu dari yang tiga, yaitu Allah, Isa dan Maryam.

Maha suci dan maha tinggi Allah subhanahu wa ta’ala dari apa yang mereka ucapkan. Perkataan mereka itu menunjukkan betapa dangkal akal orang-orang nashoro itu.

Bagaimana mereka bisa menerima perkataan dan keyakinan yang sangat buruk ini?!

Bagaimana mungkin mereka tidak paham perbedaan antara Sang Pencipta dengan makhluk?!

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala membantah perkataan mereka itu dengan firman-Nya,

وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ  

“Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang hak/benar) selain dari Tuhan Yang Esa.”

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Zat yang memiliki sifat sempurna, tidak ada sedikitpun kekurangannya, satu-satunya Zat yang maha menciptakan dan mengatur alam semesta ini dan tidak ada satu maklukpun yang mendapatkan nikmat kecuali nikmat itu pemberian dari-Nya.

Bagaimana mungkin dijadikan sekutu bagi-Nya?! Maha tinggi Allah subhanahu wa ta’ala dari perkataan orang-orang zalim itu.

Setelah itu Allah mengancam mereka dengan ancaman yang sangat berat

وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala mengancam orang-orang yang menyekutukan-Nya dengan azab yang sangat pedih. oleh karena itu hendaknya kita jangan sampai menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.

2. Kekal di dalam api neraka

Orang-orang yang menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala diancam dengan ancaman kekal di dalam api neraka, sebagaimana dalam ayat berikut,

. إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُا. المائدة 72

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, sungguh Allah telah mengaharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka.”

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيْضُوْا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ قَالُوْا إِنَّ اللهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِيْنَ {اَلْأَعْرَافُ: 50}.

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang penghuni neraka ketika mereka mendapatkan azab yang sangat berat, sangat kehausan dan kelaparan mereka memanggil penduduk surga untuk minta tolong supaya memberikan kepada mereka sedikit air dan makanan yang telah diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka, penduduk Neraka berseru, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang direzekikan Allah kepada kalian” lalu penduduk surgapun menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya (air dan makanan surga) bagi orang-orang kafir” hal itu sebagai hukuman bagi mereka penduduk neraka disebabkan karena kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan menjadikan agama Islam sebagai bahan olok-olok, padahal mereka diperintahkan supaya melaksanakan agama Islam dengan istiqomah dan dijanjikan akan mendapat balasan yang sangat mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, akan tetapi mereka tidak mau dan lebih memilih kekafiran.

3. Dihapus Semua Amal Kebaikannya

وَلَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ {الأنعام: 88}.

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Jika mereka (para nabi yang disebutkan dalam ayat sebelumnya) menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala maka akan lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan. Karena syirik menghapuskan amalan dan menyebabkan pelakunya kekal di Neraka, jika para nabi dan orang-orang yang memiliki keutamaan yang besar itu mempersekutukan Allah (tentu para nabi itu tidak mungkin menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala) terhapuslah amalan mereka. lalu bagaimana dengan kita yang tentu kedudukan kita jauh di bawah kedudukan para nabi tersebut?

Oleh karena itu jika kita tidak ingin amal ibadah kita sia-sia marilah kita jaga diri kita jangan sampai melakukan perbuatan syirik.

4. Merupakan Dosa yang Paling Besar

وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم، لقمان: 13 

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Luqman (seorang ahli Hikmah), memberikan nasehat kepada anaknya, supaya melaksanakan perintah-perintah Allah, supaya menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mendorongnya supaya taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan kemaksiatan, memerintahkannya supaya ikhlas dalam beramal dan melarang dari perbuatan syirik (mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala), kemudian dia menjelaskan sebab kenapa syirik itu dilarang dengan mengatakan,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar merupakan kezaliman yang besar.”

Syirik merupakan kezaliman yang sangat besar, karena tidak ada perbuatan yang lebih buruk dan lebih keji selain syirik, disebabkan karena syirik adalah:

  1. Menyamakan makhluk yang diciptakan dari tanah dengan Allah subhanahu wa ta’ala yang merajai alam semesta ini,
  2. Menyamakan makhluk yang tidak memiliki apa-apa dengan Zat yang menguasai semua perkara.
  3. Menyamakan makhluk yang penuh kekurangan dan miskin dengan Tuhan yang Maha Sempurna lagi Maha Kaya,
  4. Menyamakan makhluk yang tidak bisa memberikan rizki sedikitpun dengan Zat yang Maha memberi rizki kepada seluruh makhluk-Nya, baik rizki berupa agama, dunia, akhirat, hati dan badan. Dan tidak ada yang menghilangkan keburukan selain Dia.

Adakah kezaliman yang lebih parah daripada kezaliman ini? tentu tidak ada.

Adakah kezaliman yang lebih parah selain kezaliman ini, yaitu menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala sesuatu yang tidak ada bandingannya secuilpun dengan Allah subhanahu wa ta’ala, padahal Allahlah yang telah menciptakan manusia, yang tujuannya adalah supaya mereka itu hanya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.

5. Dosa yang Tidak akan Diampuni Kecuali Dengan Taubat Sebelum Wafat.

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما {النساء: 48}.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala macam dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa orang yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan Dia akan mengampuni dosa selain dosa syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya baik dosa besar maupun dosa kecil, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan banyak sekali sebab yang bisa digunakan untuk mengampuni dosa-dosa hamba-hamba-Nya, seperti,

  1. Hasanat (kebaikan), kebaikan bisa menghapus dosa.
  2. Musibah yang dialami seseorang bisa menghapuskan dosa-dosanya di dunia, di alam barzakh dan di akhirat pada hari kiamat kelak.
  3. Doa orang-orang mukmin untuk mukmin lainnya.
  4. Syafa’at dari orang-orang yang memberi syafa’at.
  5. Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan penghapus dosa yang paling tinggi, yang rahmat-Nya diberikan kepada orang-orang yang beriman dan ahli tauhid.

Akan tetapi dosa syirik, dosa orang-orang yang menyekutukan-Nya tidak ada sesuatupun yang bisa menjadi sebab untuk menghapus dosanya itu, karena pada hakekatnya orang yang menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala telah menutup pintu ampunan dan pintu rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk dirinya, sehingga ketaatan kepada-Nya tidak ada manfaatnya sama sekali, karena dia tidak mentauhidkan-Nya, musibah-musibah yang dialaminya tidak bisa menghapus dosa-dosanya sedikitpun, dan pada hari kiamat kelak tidak ada seorangpun yang bisa memberi syafaat kepadanya karena syafaat hanya diizinkan untuk diberikan kepada orang-orang yang mentauhidkan-Nya, Oleh karena itulah Allah berfirman,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah sungguh ia telah melakukan dosa yang besar.”

Orang yang menpersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala berarti ia telah melakukan kejahatan yang sangat besar. Karena tidak ada kezaliman yang lebih besar melebihi kezaliman orang yang menyamakan Allah subhanahu wa ta’ala yang maha pencipta, yang maha sempurna, yang maha kaya, yang memberi manfaat dan mudhorot, yang memberikan rizki dan yang menahannya, yang tidak ada satupun nikmat yang diberikan kepada makhluk-Nya kecuali berasal dari-Nya dengan makhluk yang penuh kekurangan, yang hanya terbuat dari tanah, yang serba membutuhkan, yang tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot kepada dirinya sendiri apalagi kepada orang yang menyembahnya, dan yang tidak bisa menghidupkan, mematikan dan membangkaitkan kembali dari kematian.

Adakah kezaliman yang lebih besar daripada kezaliman ini? Tentu tidak ada.

Oleh karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan bagi pelakunya azab yang kekal di Neraka dan tidak mendapatkan pahala sedikitpun, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, sungguh Allah telah mengaharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka.”

Tentu ayat ini ditujukan untuk orang-orang yang menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak bertaubat dari perbuatan syirik itu sampai meninggal dunia, adapun orang yang bertaubat dari perbuatan syiriknya sebelum meninggal dunia maka Allah subhanahu wa ta’ala tetap akan mengampuni dosa-dosanya itu karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah zat yang maha pengampun, Allah berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS: az_Zumar:53.

Dalam ayat lain yang senada dengan ayat di atas Allah berfirman,

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيْدًا {النساء: 116}.

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Syirik merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena dalam perbuatan tersebut mengandung unsur celaan yang sangat besar kepada-Nya, dalam rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, kemaha Esaan-Nya dan dari sisi menyamakan-Nya dengan makhluk yang tidak memiliki manfaat maupun mudhorot sedikitpun untuk diri mereka sendiri, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala  adalah Zat yang memilik manfaat dan mudhorot, yang semua nikmat berasal dari-Nya, tidak ada yang bisa menolak bencana selain Dia, yang memiliki kesempurnaan yang mutlak dan yang Maha Kaya dan sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya.

Termasuk kezaliman yang paling besar dan kesesatan yang paling jauh adalah tidak memurnikan ibadah hanya untuk Zat yang memiliki keagungan seperti ini tapi justru memberikannya kepada makhluk yang tidak memiliki sifat sempurna sama sekali, tidak memiliki apa-apa dan sangat tergantung kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun selain dosa syirik yang berupa kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka semua dosa itu berada di bawah masyi’ah atau kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, jika Allah menghendaki maka Allah akan mengampuninya berdasarkan rahmat dan hikmah-Nya. Tapi jika tidak  menghendaki untuk mengampuninya maka Allah akan mengazabnya berdasarkan keadilan dan hikmah-Nya.

6. Dosa yang pelakunya seperti orang yang dijatukan dari langit lalu disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّوْرِ* حُنَفَاءَ ِللهِ غَيْرَ مُشْرِكِيْنَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخَطَّفَهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ {الحج: 30ـ 31}.

maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya  mereka meninggalkan rijsa (najis) yang berupa berhala (tandingan-tandingan selain Allah subhanahu wa ta’ala) yang mereka jadikan sebagai sesembahan selain-Nya, karena berhala merupakan jenis najis yang paling besar. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya meninggalkan perkataan-perkataan dusta, termasuk perkataan dusta adalah bohong dan bersaksi palsu

Hendaknya bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebelum meninggal dunia.

Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan mempersekutukan-Nya oleh karena itu hendaknya orang yang terjatuh dalam kesyirikan bertaubat kepada Allah-Nya sebelum terlambat, karena Allah adalah zat yang Maha Pengampun dan akan mengampuni dosa apa saja jika orang tersebut mau bertaubat kepada-Nya dari perbuatan-perbuatan dosa itu termasuk dosa kesyirikan.

.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُاللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْن إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Pada khutbah kedua ini khotib mengingatkan kembali kepada jama’ah sekalian untuk senantiasa berhati-hati jangan sampai melakukan kesyirikan karena akibatnya sangat merugikan diri sendiri.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Referensi:

Al-Qur’an Kemenag

Taysir Kalimirrohman, Syaikh as-Sa’di

Abu Layla Turahmin, M.H.

12 oktober 2023 31.36

Tinggalkan komentar