ADAB-ADAB DI HARI RAYA IEDUL ADHA

108 Pembaca

بسم الله الرحمن الحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله. أما بعد.

Hari raya iedul adha merupakan salah satu hari raya besar Islam yang dilaksanakan berkaitan dengan ibadah haji dengan cara menyembelih hewan kurban sehingga hari raya iedul adha disebut juga hari raya kurban. Ada beberapa adab yang yang perlu diperhatikan berkaitan dengan hari raya iedul adha ini yaitu:

Pertama: sebelum tiba hari raya

Adab-adab yang perlu diperhatikan sebelum hari raya adalah sebagai berikut:

1. Tidak memotong kuku dan rambut bagi orang yang hendak berkurban.

Larangan memotong kuku dan rambut bagi orang yang hendak berkurban ini dimulai sejak masuk bulan dzulhijjah sampai hewan kurbannya disembelih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا رَأَيْتُمْ هِلالَ ذِي الحِجَّةِ، وأَرادَ أحَدُكُمْ أنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عن شَعْرِهِ وأَظْفارِهِ. رواه مسلم ، في صحيح مسلم ، عن أم سلمة، الصفحة أو الرقم:1977، صحيح

“Apabila kamu melihat hilal bulan dzulhijjah dan salah seorang diantara kamu hendak berkurban maka tahanlah (jangan memotong) rambut dan kuku-kukunya.” HR: Muslim, Nomer: 1977.

Dalam hadis tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabatnya yang hendak berkurban memotong rambut maupun kuku-kukunya, sejak munculnya hilal bulan dzul hijjah sampai hewan kurbannya tersebut disembelih pada hari raya iedul adha atau pada hari-hari tasyriq.

2. Memperbanyak takbir mutlak

Memperbanyak takbir mutlak ini dilakukan sejak ditetapkannya muncul hilal bulan dzulhijjah sampai tenggelamnya matahari di akhir hari tasyriq.

            Dalilnya adalah sebagai berikut:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ [الحج: 28]

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” Al-Haj: 28.

Berkenaan dengan ayat ini Ibnu abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah.

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya berzikir kepada-Nya, salah satu bentuk zikir adalah dengan bertakbir dan berzikir ini dilaksanakan sepanjang hari-hari yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sejak hari pertama sampai hari tasyrik berakhir dengan tenggelamnya matahari.

3. Berpuasa pada hari arofah

Berpuasa pada hari arofah memiliki pahala yang sangat besar yaitu dihapuskannya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَومِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ علَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتي بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَومِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ علَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتي قَبْلَهُ. رواه مسلم في صحيح مسلم، الرقم: 1162

“Puasa pada hari arafah saya berharap kepada Allah bahwa Allah akan menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang telah lalu dan (dosa-dosa) setahun setelahnya, dan puasa tanggal sepuluh bulan muharram (tanggal sepuluh suro), saya berharap kepada Allah bahwa Allah akan menghapuskan (dosa-dosa) setahun sebelumnya.” HR: Muslim: 1162.

Kedua: Pada saat hari raya

Ketika hari raya iedul adha telah tiba hendaknya kaum muslimin bersemangat melaksanakan adab-adab pada hari raya tersebut dan meniatkannya untuk ittiba’ (meneladani) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantara hal-hal yang hendaknya diperhatikan dan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Tidak makan apapun sebelum berangkat shalat iedul adha hingga kembali dari shalat tersebut.

عن ابن بريدة عن أبيه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يخرج يوم الفطر حتي يطعم، ولا يطعم يوم الأضحى حتى يصلي. رواه أحمد والترميذي، وصححه ابن حبان

Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari raya iedul fitri (untuk shalat) kecuali beliau makan terlebih dahulu dan beliau tidak makan pada hari raya iedul adha sampai setelah selesai shalat. HR; Ahmad dan Tirmidzi, hadis ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

2. Melaksanakan shalat ied di tanah lapang di luar masjid.

وعنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج يوم الفطر والأضحى إلى مصلى، وأول شيئ يبدأ به الصلاة، ثم ينصرف فيقوم مقابل الناس، والناس على صفوفهم فيعظهم ويأمرهم. متفق عليه

Darinya berkata: “Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam keluar (rumah) pada hari raya iedul fitri dan iedul adha ke tanah lapang, pertama yang belia kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap ke arah manusia dan manusia pada saat itu masih berada di shaf-shaf mereka, lalu beliau memberikan nasehat kepada mereka dan mermerintahkan memereka. muttafaqun ‘alaihi.

3. Hendaknya bertakbir ketika berjalan ke tempat shalat iedul adha.

عن أمِّ عطيةَ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت: ((كنَّا نُؤمَرُ بالخروجِ في العِيدَينِ، والمُخبَّأةُ، والبِكرُ. قالت: الحُيَّضُ يَخرُجْنَ فيكنَّ خلفَ الناسِ، يُكبِّرْنَ مع الناسِ)) وفي رواية: ((فيُكبِّرْنَ بتكبيرِهم)) رواه البخاري


“Kami diperintahkan supaya keluar (dari rumah) untuk menghadiri dua (shalat) ied (iedul fitri dan iedul adha), gadis pingitan dan anak-anak gadis,” dia berkata: “Para wanita haidh juga keluar rumah mereka berjalan di belakang orang-orang dan bertakbir bersama mereka. ” HR: Bukhori.

4. Berangkat ke tempat shalat iedul adha dengan berjalan kaki dan tidak naik kendaraan jika memungkinkan.

عن علي رضي الله عنه قال، “من النو أن يخرج إلى العيد ماشيا”. رواه الترميذي وحسنه

Dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Termasuk sunnah adalah keluar untuk melaksanakan shalat ied berjalan kaki.” HR: Tirmidzi dan dishahihkan olehnya.

5. Mengenakan pakaian yang paling bagus dan menggunakan minyak wangi yang paling baik untuk memuliakan shalat ied bersama kaum muslimin.

6. Melewati jalan yang berbeda ketika berangkat dan ketika kembali dari shalat ied.

Berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berangkat untuk menunaikan shalat iedul adha.

عن جابر رضي الله عنه قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان يوم العيد خالف الطريق. رواه البخاري في صحيح البخاري، الرقم: 986

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hari raya iedul adha menempuh jalan yang berbeda (ketika berangkat dan ketika kembali ke rumah).” HR: Bukhori: 986.

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berangkat untuk menunaikan shalat iedul adha dan ketika pulang setelah menunaikan shalat tersebut menempuh jalan yang berbeda supaya disaksikan oleh orang-orang yang ada di sekitar jalan tersebut atau disaksikan oleh para malaikat yang ada di ada di jalan yang dilewati.

7. Menyembelih hewan kurban

Menyembelih hewan kurban pada hari raya iedul adha merupakan perkara terpenting untuk dilakukan pada hari raya tersebut dan termasuk sunah muakkadah.

8. Bertakbir

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ. البقرة: 203.

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” QS: al-Baqarah:203.

Bertakbir disunahkan pada awal hari raya (setelah shalat subuh) dan pada hari-hari tasyriq, lafadznya adalah:

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد

9. Membahagiakan keluarga tapi tidak berlebihan

Salah satu adab yang sangat penting ketika hari raya iedul adha adalah menyenangkan keluarga dengan cara menambah uang belanja (nafkah) pada hari itu untuk membeli makanan, minuman, pakaian dan manisan.

10. Menampakkan kegembiraan pada hari raya iedul adha

Pada hari raya iedul adha diperintahkan untuk menampakkan kegembiraan, kebahagiaan dan kasih sayang kepada keluarganya, pada hari itu seorang muslim hendaknya menyenangkan keluarganya dengan kasih sayang, karena pada hari raya iedul adha merupakan hari untuk menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan untuk mengagungkan syiar-syiar Allah. Oleh karena itu jangan sampai seorang mukmin menjadi sebab timbulnya kesusahan atau justru menggunakan hari tersebut untuk menanam permusuhan di tengah-tengah keluarganya.

Demikian beberapa adab yang hendaknya diperhatikan dan dilaksanakan oleh kaum muslimin menjelang hari raya iedul adha dan pada saat hari raya iedul adha itu sendiri.

Semoga bermanfaat dan bisa dipraktekkan, mudah-mudahan apa yang ditulis di sini dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.

Referensi:

al-Qur’an

Bulughul Marram

https://mawdoo3.com/آداب _عيد_الأضحى

https://dorara.net/feqhia/1771/المطلب-الأول-في-عيد-الأضحى

Abu Layla Turahmin, M.H.

Rabu, 21 juni 2023, jam 14.55.

Bin Baz.

Tinggalkan komentar