Bagaimana Menyambut Bulan Ramadhan

78 Pembaca


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

‘ibadallah… jama’ah jum’at rohimani wa rohimakumulahu jami’an…

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan kenikmatan-kenikmatan-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman dan nikmat islam, dua buah nikmat yang sangat agung yang dianugerahkan Allah kepada kita semua, dua nikmat yang tidak diberikan kecuali hanya kepada orang-orang yang dicintainya.

Oleh karena itu marilah kita benar-benar bersyukur kepada Allah dan kita jaga nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya, dua buah nikmat yang terbesar yang tidak boleh ditukar dengan apapun sampai kita menghadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Jama’ah jum’at rohimani wa rohimakumullahu jami’an…

Pada kesempatan khutbah jum’at ini saya selaku khotib ingin mengingatkan kepada diri saya sendiri dan kepada jama’ah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).

Kemudian sholawat dan salam kita panjatkan kepada baginda nabi kita, nabi muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Jama’ah Jum’at rahimani wa rahimakumullah jami’an

Bagaimana Menyambut Ramadhan

Cara untuk menyambut bulan ramadhan adalah sebagai berikut:

1. Bertaubat Kepada Allah subhanahu wa ta’ala Dengan Sebenar-benarnya Taubat

Bertaubat merupakan sesuatu yang hendaknya senantiasa dilakukan setiap waktu karena setiap manusia tidak ada yang bersih tanpa dosa, akan tetapi tentu menjelang bulan ramadhan yang agung dan penuh berkah ini tentu lebih ditekankan dan hendaknya segera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas dosa-dosa yang telah dikerjakan, baik dosa antara dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala maupun dosa antara seseorang dengan orang lain supaya ketika memasuki bulan Ramadhan lebih siap untuk menyibukkan diri dengan ibadah di bulan tersebut dengan hati yang lapang dan tenang, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. النور/ من الآية 31.

Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. QS: an-Nur: 31.

وعَنْ الأَغَرَّ بن يسار رضي الله عنه عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ” رواه مسلم : 2702

Dari Aghor bin Yasar rashiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian Manusia bertaubatlah kepada Allah, karena sesungguhnya Aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali. HR: Muslim: 2701.

2. Berdoa Kepada Allah subhanahu wa ta’ala Supaya Dipertemukan Dengan Bulan Ramadhan

Berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala termasuk ibadah yang sangat penting bahkan merupakan inti ibadah itu sendiri, hendaknya kaum muslimin memperbanyak doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala kondisinya termasuk berdoa supaya diberi kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan yang baik, baik agamanya dan juga baik fsiknya, berdoa kepada-Nya supaya diberi pertolongan untuk melaksanakan ibadah di bulan tersebut secara maksimal dan berdoa supaya bisa menyelesaikan bulan Ramadhan secara tuntas, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimin supaya berdoa kepada-Nya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ. سورة غافر: 60

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” QS: Ghofir: 60.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya kaum muslimin berdoa kepada-Nya dan mengabarkan bahwa orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya merupakan orang-orang sombong dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka, oleh sebab itu supaya tidak termasuk orang-orang yang sombong dan mendapat ancaman api neraka hendaknya selalu berdoa kepadanya termasuk berdoa supaya dipertemukan dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan keistimewaan.

Para sahabat dahulu selalu berdoa kepada-Nya supaya dipertemukan dengan bulan Ramadhan bahkan doa yang mereka panjatkan dilakukan sejak enam bulan sebelum tibanya bulan Ramadhan dan setelah bulan itu berlalu merekapun berdoa semoga amal ibadahnya di bulan Ramadhan diterima Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Merasa Gembira Dengan Kedatangan Bulan amadhan

Hendaknya kaum muslimin merasa gembira dengan kedatangan bulan Ramadhan karena bulan Ramadhan memiliki keistimewaan yang tidak terdapat dalam bulan-bulan yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keistimewaan khusus pada bulan Ramadhan tersebut. Jika kaum muslimin merasa gembira dengan hadirnya bulan Ramadhan tentu mereka akan mampu menjalani bulan tersebut dengan berbagai macam ibadah yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya secara maksimal, dan tidak terasa berat ketika melaksanakannya bahkan terasa sangat ringan karena adanya rasa bahagia bertemu dengan bulan mulia ini.

Kaum muslimin hendaknya merasa bahagia dengan kedatangan bulan Ramadhan karena bulan Ramadhan merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat agung yang dianugerahkan kepada kaum muslimin, bulan Ramadhan adalah bulan bulan penuh kebaikan, bulan untuk berlomba-lomba melaksanakan berbagai macam kebaikan yang pahalanya lebih utama daripada jika dikerjakan dibulan-bulan lainnya, bulan Ramadhan merupakan waktu dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan bulan Ramadhon merupakan Syahrul Qur’an.

Hendaknya kaum muslimin merasa bahagia dengan kedatangan bulan Ramadhan tersebut, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ. سورة يوسف: 58.

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” QS: Yunus: 58.

4. Menumbuhkan Tekad Bulat Untuk Fokus Ibadah di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kaum muslimin untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menjadikan bulan Ramadhan menjadi bulan yang penuh dengan keistimewaan, seperti kewajiban berpuasa sebulan penuh di Bulan tersebut, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, bulan diturunkannya al-Qur’an, syahrul Qur’an, dilipatgandakannya pahala ibadah pada bulan tersebut dan lain-lain yang merupakan keistimewaan yang sangat besar, oleh karena itu supaya di bulan Ramadhan meraih keistimewaan-keistimewaan tersebut hendaknya seseorang menumbuhkan tekadnya untuk fokus beribadah di bulan tersebut, karena tekad yang kuat dan besar akan sangat membantu seseorang dalam menjalani ibadah di bulan tersebut dengan lebih maksimal dan terasa ringan bukan menjadi beban yang berat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyuruh kaum muslimin supaya memiliki semangat yang kuat untuk melaksanakan sesuatu yang bermanfaat baginya dan tentu saja termasuk perkara yang bermanfaat bagi seorang muslim adalah memaksimalkan ibadahnya di bulan Ramadhan terutama ibadah puasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis,

الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شَيءٌ، فلا تَقُلْ: لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ؛ فإنَّ (لو) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

الراوي : أبو هريرة | المحدث : مسلم | المصدر : صحيح مسلم

الصفحة أو الرقم: 2664 | خلاصة حكم المحدث : [صحيح][1]

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan, semangatlah meraih apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan jangan merasa lemah, jika kamu tertimpa sesuatu jangan mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan begini maka hasilnya akan begini’, tapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan terlaksana’. Karena (kalimat) seandainya akan membuka perbuatan setan.” HARI: Muslim, 2664.

5. Memperbanyak Rasa Syukur Kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan Akan Datangnya Bulan Ramadhan

Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan sesuatu yang sangat diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kaum muslimin dan hukumnya wajib, karena Allah subhanahu wa ta’ala berjanji kepada orang-orang yang mau bersyukur kepada-Nya akan menambah nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada mereka itu dan mengancam dengan ancaman yang sangat berat bagi mereka yang tidak mau bersyukur kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ. سورة إبراهيم: 7.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” QS: Ibrohim: 7.[2]

Kaum muslimin hendaknya bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika bulan Ramadhan akan tiba, karena kedatangan bulan Ramadhan merupakan nikmat yang sangat besar yang diberikan kepada mereka, dengan datangnya bulan Ramadhan ini kaum muslimin dapat memanfaatkannya untuk berlomba-lomba meraih pahala yang besar di sisi-Nya dan dengan bersyukur kepada-Nya tentu Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah kenikmatan tersebut kepada mereka sehingga mereka dipermudah untuk berlomba-lomba dalam beribadah kepada-Nya di bulan mulia ini.

6. Mengiklaskan Niat karena Allah subhanahu wa ta’ala Untuk Beribadah di bulan Ramadhan

Niat merupakan landasan supaya amal ibadah diterima Allah subhanahu wa ta’ala tanpa niat yang benar amal ibadah tidak akan diterima sehingga sangat penting bagi kaum muslimin untuk selalu memperhatikan niatnya ketika beribadah, dalam hadis Jibril yang diriwayatkan Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa salllam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِؤٍ مَا نَوَى. رواه البخاري و مسلم.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung daripada niatnya dan setiap orang akan mendapat ganjaran sesuai niatnya masing-masing. HR: Bukhori Muslim.[3]

Sebelum masuk bulan Ramadhan hendaknya kaum muslimin mempersiapkan diri dengan menata niatnya dan meluruskan niatnya karena Allah subhanahu wa ta’ala dan bertekad bulat untuk memaksimalkan ibadah dibulan Ramadhan terutama ibadah puasa di bulan tersebut yang merupakan salah satu rukum Islam. Dengan niat yang benar dan tekad yang kuat insyaallah bulan Ramadhan akan bisa dijalani dengan baik dan maksimal sehingga keluar dari bulan Ramadahan menjadi semakin betakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

7. Segera Melunasi Hutang Puasa Sebelum Masuk Bulan Ramadhan

Jika seseorang memiliki hutang puasa pada bulan Ramadhan sebelumnya hendaknya hutang puasa tersebut segera dilunasi supaya Ketika bulan Ramadhan telah tiba sudah tidak memiliki hutang puasa, hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau melunasi hutang puasa di bulan sya’ban, dalam sebuah hadis disebutkan,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ: كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلا فِي شَعْبَانَ. رواه البخاري (1849) ومسلم: (1146)

Dari Abu Salamah berkata, Aku mendengar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Dahulu aku pernah memiliki hutang puasa Ramadhan Aku tidak bisa mengqodhonya melainkan di bulan sya’ban. HR: Bukhori: 1849 dan Muslim 1145.

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله: ويؤخذ من حرصها على ذلك في شعبان أنه لا يجوز تأخير القضاء حتى يدخل رمضان آخر “فتح الباري. (4/191)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari semangatnya bisa diambil faidah bahwa (akhir) qodho puasa Ramadhan adalah si bulan sya’ban sehingga tidak boleh menunda qodho puasa sampai masuk bulan Ramadhan berikutnya. Fathul Bari: 4/191

8. Mempelajari Hukum-hukum seputar Ramadhan

Untuk menyambut bulan Ramadhan agar bisa maksimal dalam berlomba-lomba meraih pahala yang sangat besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala hendaknya kaum muslimin mempersiapkan diri dengan mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan bulan tersebut sehingga ketika telah masuk ke dalam bulan ramadhan tinggal mempraktikkan ilmu yang telah telah dipelajari tersebut.

Mempelajari ilmu yang berkaitan dengan amalan-amalan di bulan Ramadhan termasuk sebuah ibadah yang bernilai pahala yang sangat besar karena termasuk dalam katagori menuntut ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadisnya pernah menyampaikan,

مَن سلَكَ طريقًا يلتَمِسُ فيهِ علمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طريقًا إلى الجنَّةِ. أخرجه أبو داود (3641)

“Barangsiapa menempuh sebuah jalan dalam rangka untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya menuju surga. HARI: Abu Dawud: 3641.

Orang yang mau menuntut ilmu akan mendapat ganjaran dimudahkan jalannya menuju ke surga dan ini merupakan keutamaan yang sangat besar yang hendaknya kaum muslimin bersegera dan berlomba-lomba untuk melaksanakannya.

9. Segera Menyelesaikan Pekerjaan Sebelum Masuk Bulan Ramadhan Supaya Bisa Fokus Beribadah di Bulan Ramadhan

Segera menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang wajib dikerjakan sebelum masuk di bulan Ramadhan supaya ketika bulan Ramadhan telah tiba tidak disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu sehingga tidak mampu fokus beribadah di bulan yang mulia tersebut dan akhirnya mengalami kerugian keluar dari bulan tersebut tidak membawa pahala yang besar.

10. Mengajarkan Hukum-hukum Seputar Ramadhan Kepada Keluarga, Istri dan Anak-anak dan Memotifasi Anak-Anaknya yang Masih Kecil Supaya Berpuasa

Istri dan anak merupakan tanggung jawab seorang suami bukan hanya dalam masalah makan, minum, tempat tinggal dan lain-lain yang merupakan kebutuhan jasmaniyah akan tetapi suami juga bertanggung jawab dengan kebutuhan rohani mereka, termasuk dalam menyambut bulan Ramadhan, hendaknya  seorang suami mempersiapkan anak dan istrinya dengan membekali mereka ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum seputar Ramadhan sehingga ketika bulan tersebut tiba mereka mampu menjalani bulan itu dengan ibadah-ibadah yang banyak dan sesuai dengan tuntunan syari’at Islam.

11. Menyiapkan Buku-buku Agama Khususnya yang Berkaitan Dengan Bulan Ramadhan Supaya Bisa Dibaca di Rumah dan Membagikan Buku-Buku Tersebut Sebagai Hadian Untuk Takmir Masjid Supaya Dibacakan Kepada Jama’ah Masjid

Sebelum bulan ramadhan hadir hendaknya mempersiapkan diri dengan baik, salah satunya adalah dengan menyiapkan buku-buku agama khususnya yang berkaitan dengan hukum-hukum seputar bulan Ramadhan di rumah supaya bisa setiap saat dibaca sebagai bekal ibadah di bulan tersebut, dan akan lebih baik lagi jika menyiapkan buku-buku tentang Ramadhan tersebut cukup banyak supaya bisa dibagikan kepada orang lain atau kepada takmir-takmir masjid agar takmir-takmir masjid tersebut membacakannya kepada jama’ah masjidnya masing-masing, sebagai bekal bagi mereka untuk menyambut bulan Ramadhan.

12. Berpuasa di Bulan Sya’ban Sebagai Persiapan Berpuasa di Bulan Ramadhan

Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai latihan supaya ketika memasuki bulan Ramadhan sudah siap untuk berpuasa dan tidak merasa berat untuk melaksanakan puasa karena puasa Ramadhan hukumnya wajib tidak boleh ditinggalkan. Dalam sebuah hadis disebutkan,

فعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. رواه البخاري (1868)، ومسلم. (1156).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berpuasa sehingga kami sampai mengatakan beliau berpuasa terus-menerus tanpa henti, dan (dahulu pula) beliau selalu berbuka (tidak berpuasa) sampai kami mengatakan beliau tidak berpuasa terus. Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh selain di Bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa paling banyak selain di bulan sya’ban. HR: Bukhori, 1868, Muslim 1156.

عَنْ أُسَامَة بْن زَيْدٍ رضي الله عنهما قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: (ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ). رواه النسائي. (2357)، وحسَّنه الألباني في “صحيح النسائي”.

Dari usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, Aku berkata: “Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan sya’ban,” beliau bersabda:  “Itu adalah bulan yang biasanya manusia lalai darinya yaitu bulan antara rajab dan ramadhan, bulan itu adalah bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Tuhan semesta alam ini, sehingga aku ingin amalanku diangkat ketika aku sedang berpasa, HARI: an-Nasai: 2357.

13. Membaca al-Qur’an

Membaca al-Qur’an termasuk ibadah yang sangat agung dan berpahala sangat besar, orang yang mau membaca al-qur’an akan mendapat pahala setiap huruf yang dibacanya satu kebaikan dan satu kebaikan tersebut dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuha hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh albani rohimahumallahu jami’an dalam kitab shahih tirmidzi juz 3 halaman 9,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ، فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَلِهَا، لَا أَقُوْلُ (آلم) حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ.[4]

Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan karena bacaannya itu, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan ali laam miim satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.

Hadis tersebut menjelaskan betapa besarnya pahala membaca al-qur’an, hanya sekedar membaca al-qur’an pahalanya demikian besar, satu huruf satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat jika seseorang membaca alif laam miim maka dia telah membaca tiga huruf dan tiga huruf tersebut dikali sepuluh menjadi tiga puluh berarti dia telah mendapatkan tiga puluh kebaikan padahal hanya membaca tiga huruf dari al-Qur’an. Subhanallah itu merupakan karunia yang sangat besar dari Allah subhanahu wa ta’ala yang hendaknya seorang muslim berlomba-lomba untuk meraihnya, dengan memperbanyak membaca al-Qur’an karena semakin banyak dan semakin sering membaca al-Qur’an pahalanya akan semakin besar sampai tidak bisa dihitung dengan alat apapun.

Terlebih lagi di bulan sya’ban hendaknya kaum muslimin lebih memperbanyak membaca al-Qur’an karena bulan sya’ban merupakan bulan para Qurro’, disebutkan dalam sebuah riwayat,

قال سلمة بن كهيل: كان يقال شهر شعبان شهر القراء. وكان عمرو بن قيس إذا دخل شهر شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن

Salamah bin Kuhail berkata: “Dahulu bulan sya’ban disebut bulannya para Qurro’, dahulu Amr bin Qois jika bulan sya’ban telah hadir dia menutup warungnya  dan fokus membaca al-Qur’an.[5]

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن


اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Abu Layla Turahmin, M.H.
Jum’at, 26 Januari 2024.


[1] . https://dorar.net/hadith/sharh/62791, 25 Januari 2024, 14.55.

[2] . Qur’an Kemenag, 26 januari 2024, jam, 08:32.

[3] . Ibnu Rojab al-Hambali, Jami’ul Ulum Wal Hikam tahqiq, Ahmadi Abu Nur, Hal, 55.

[4] . Suhail bin Muhammad Qosim, Kaifa Naqro’ul Qur’an Fi Ramadhan Wa Ghoirihi Min Syuhuril ‘Am, hal: 7.

[5] . https://islamqa.info/ar/answers/92748/الاستعداد-لشهر-رمضان, 27 Januari 2024, jam 08.02.

Tinggalkan komentar