Balasan Bagi Orang yang Bertauhid

41 Pembaca

ORANG YANG MEREALISASIKAN TAUHID AKAN MASUK SURGA TANPA HISAB

وقول الله تعالى: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ. (النحل: 120)  

            Artinya:” Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)“. QS: An-nahl:120

Penjelasan ayat

            Dalam ayat yang mulia ini Allah subhanahu wata’ala mengabarkan kepada kita bahwa rosul-Nya yaitu nabi ibrohim ‘alaihissalam adalah pemimpin dalam agama dan pengajar kebaikan, beliau selalu khusu’ dan taat kepada Tuhan-Nya, beliau berpaling dari kesyirikan dan berpegang teguh pada tauhid dan bersih dari semua jenis kesyirikan baik syirik amalan, perbuatan maupun syirik perkataan.

Mutiara ayat

  1. Tauhid adalah pondasi semua agama.
  2. Wajib meneladani keikhlasan Nabi Ibrohim ‘alaihissalam kepada Allah subahanahu wa ta’ala.
  3. Seorang dai hendaknya  menjadi teladan bagi orang lain.
  4. Sifat para nabi adalah istiqomah dalam beribadah (kepada Allah subhanahu wa ta’ala).
  5. Tauhid tidak akan benar kecuali dengan mengingkari kesyirikan.
  6. Bantahan terhadap orang-orang qurois jahiliyah yang menganggap bahwa kesyirikan mereka berada di atas agama ibrohim.

Hubungan ayat dengan bab          

            Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki empat macam sifat ini berhak masuk surga sebagaimana Nabi Ibrohim ‘alaihissalam berhak masuk surga.

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لا يُشْرِكُونَ . وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ. (المؤمنون:57-61)

            Artinya:” (57)  Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka (58) Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka (59). Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), 60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, 61. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya“. (Qs: Al-Mukminun:57-61)

Penjelasan ayat

            Di dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala menyifati kaum mukminin dengan empat macam sifat yang pantas untuk dipuji, sifat-sifat itu adalah mereka  merasa sangat takut terhadap azab Allah, mereka membenarkan ayat-ayat al-qur’an dan ayat-ayat kauniyah ( tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta) yang menunjukkan keberadaa-Nya dan kebenaran risalah muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, mereka tunduk terhadap ayat-ayat tersebut lahir batin, mereka tidak meyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesuatupun,  Di sebabkan karena besarnya rasa takut mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mereka merasa  sangat takut jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima apa yang mereka sodaqohkan, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala bersaksi tentang mereka bahwa mereka selalu berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan Dia mengabarkan bahwa mereka telah mendahului orang-orang lainnya.

Mutiara ayat

  1. Wajib merasa takut kepada azab Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Wajib beriman kepada Ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Haramnya kesyirikan dan berbagai macam jenisnya.
  4. Perhatian terhadap di terimanya amal adalah merupakan sifat orang-orang sholih.
  5. Di sunahkan berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Hubungan ayat dengan bab

            Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki keempat sifat itu dan membersihkan dirinya dari syirik yang bisa menghapus amalan (seseorang) maka ia berhak masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, karena dengan demikian berarti ia telah merealisasikan tauhid, dan itu merupakan balasan bagi orang yang merealisasikannya.

  عن حصين بن عبد الرحمن قال: كنت عند سعيد بن جبير فقال: أيكم رأى الكوكب الذي انقض البارحة؟ فقلت: أنا. ثم قلت: أما إني لم أكن في صلاة ولكني لُدِغت. قال: فما صنعت؟ قلت: ارتقيت. قال: فما حملك على ذلك؟ قلت: حديث حدثناه الشعبي. قال: وما حدثكم؟ قلت: حدثنا عن بريدة بن الحصيب أنه قال: “لا رقية إلا من عين أو حمة”. قال: قد أحسن من انتهى إلى ما سمع. ولكن حدثنا ابن عباس عن النبي – صلى  الله عليه وسلم- أنه قال: “عرضت علي الأمم فرأيت النبي ومعه الرهط والنبي ومعه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد إذ رفع لي سواد عظيم فظننت أنهم أمتي، فقيل لي هذا موسى وقومُه، فنظرت فإذا سواد عظيم فقيل لي: هذه أمتك ومعهم سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب”. ثم نهض فدخل منزله فخاض الناس في أولئك فقال بعضهم: فلعلهم الذين صحبوا رسول الله – صلى  الله عليه وسلم-، وقال بعضهم: فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئاً وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله صلى الله عليه فأخبروه فقال: “هم الذين لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون” فقام عُكَّاشة بن مِحْصَن فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، قال: “أنت منهم” ثم قام رجل آخر فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، فقال: “سبقك بها عكاشة”

            Dari husain bin abdurrohman berkata: dulu aku pernah bersam sa’id bin jubair rahimahullahu ta’ala beliau berkata:”siapakah diantara kamu yang kemarin (dini hari) melihat bintang jatuh?”Aku menjawab:”Aku”. Kemudian aku berkata:”Pada waktu itu aku sedang tidak mengerjakan sholat akan tetapi aku tersengat kala jengking”. Beliau berkata:” lalu apa yang kamu lakukan?” Aku menjawab:”Aku meruqyahnya”. Beliau berkata:”Apa yang menyebabkan kamu melakukannya?” aku menjawab:”sebuah hadis yang di riwayatkan oleh asy-sya’bi”. Beliau berkata:”apa yang telah ia ceritakan kepadamu?” aku menjawab:”Telah menceritakan kepada kami dari buraidah bin husaib beliau berkata:”Tidak boleh meruqyah kecuali (sakit) ‘ain atau sakit karena terkena racun binatang berbisa”. Beliau (husain bin abdurrohman) berkata:”alangkah indahnya (perbuatan) orang yang mencukupkan dengan apa yang telah ia dengar saja, akan tetapi ibnu abbas pernah menceritakan kepada kami dari nabi shollallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:”Telah di tampakkan kepadaku umat manusia dari jauh, aku melihat ada seorang nabi yang hanya bersama beberapa orang (kurang dari sepuluh jumlahnya), ada pula nabi yang hanya bersama dengan satu atau dua orang saja, dan ada pula nabi yang sendirian (tidak memiliki pengikut), tiba-tiba di tampakkan kepadaku sekelompok orang yang sangat besar aku menyangka bahwa mereka adalah umatku, lalu di katakan kepadaku:”ini adalah musa dan umatnya”. Ketika aku sedang memperhatikan tiba-tiba ada sekelompok orang yang sangat besar dan dikatakan kepadaku:”inilah umatmu, bersama dengan mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab”. Kemudian beliau bangkit dan masuk kedalam rumahnya. Setelah itu orang-orangpun ramai membicarakannya, ada yang berkata:”Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjadi sahabat-sahabat nabi shollallahu’alaihi wasallam”. Ada juga yang berkata:”Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam islam dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun”. Merekapun menyebutkan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang lain. Lalu nabi shollallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui mereka, mereka memberitahukannya kepada nabi shollallahu ‘alaihi wasallam lalu nabi bersabda:” Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta di ruqyah, tidak meminta orang lain untuk mengkay (mengobati penyakit dengan besi yang di panaskan) dan mereka tidak bertathoyyur*mereka hanya bertawakkal kepada Robbnya (Allah)”. Tiba-tiba ‘ukasyah bin muhson bangkit berdiri dan berkata:”(wahai rosulullah) doakanlah aku agar Allah menjadikan aku termasuk bagian dari mereka”. Beliau bersabda:”engkau termasuk di antara mereka”. Kemudian ada orang lain yang berkata:”(wahai rosulullah) doakanlah aku agar Allah menjadikan aku termasuk bagian dari mereka”. Beliau bersabda:”Ukasyah telah mendahuluimu”. HR: Bukhori dan Muslim.

Penjelasan hadis

            Husain bin abdurrohman rahimahullahu ta’ala mengabarkan kepada kita tentang pembicaraanya dengan salah seorang tabi’in mulia sa’id bin jubair tentang rukyah, yaitu ketika beliau di sengat kalajengking, lalu beliau merukyahnya dengan rukyah syar’i, ketika said bin jubar rahimahullahu ta’ala bertanya kepadanya tentang dalil dari perbuatannya itu, beliau (husain) memberitakukan kepadanya sebuah hadis yang di riwayatkan oleh sya’bi yang menjelaskan bolehnya merukyah penyakit ‘ain dan penyakit karena racun (sengatan binatang berbisa). Said bin jubar rahimahullahu ta’ala memuji perbuatannya itu akan tetapi kemudian beliau meriwayatkan hadis yang memuji perbuatan orang meninggalkan rukyah yaitu hadis yang di riwayatkan oleh ibnu ‘abbas radhiyallahu ‘anhu yang mencakup  empat sifat yang bisa menjadikan orang yang memilikinya akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. (keempat) sifat itu adalah: tidak minta di rukyah, tidak minta di kay, tidak bertathoyyur (merasa bernasib sial karena melihat burung yang terbang ke arah tertentu) akan tetapi hanya bertawakkal kepada Allah. Ketika ukasyah rodhiyallahu ‘anhu meminta kepada nabi agar beliau berkenan mendoakannya termasuk salah seorang yang di sebutkan dalam hadis itu, beliau (nabi) mengabarkan bahwa ia termasuk salah seorang di antara mereka, ketika ada orang lain meminta hal yang sama kepada beliau, beliau bersikap sangat halus dalam menolak permintaannya, untuk mencegah agar tidak semakin banyak orang yang meminta di doakan seperti doa yang di minta oleh ukasyah rodhiyallahu ‘anhu.

Mutiara hadis

  1. Jauhnya para salaf dari sifat riya’ dan sebab yang bisa mengantarkan kepada sifaat tersebut.
  2. Bolehnya meminta dalil dari suatu pendapat.
  3. Bolehnya merukyah penyakit ‘ain dan sengatan racun binatang berbisa. Rukyah syar’i adalah rukyah dengan menggunakan ayat al-qur’an atau dengan doa-doa yang ma’sur dari nabi shollallahu ‘alaihiwasallam dan dengan menggunakan bahasa arab
  4.  Dalamnya ilmu salaf.
  5. Beramal berdasarkan al-qur’an dan sunnah lebih didahulukan dari pada mazhab tertentu.
  6. Keutamaan salaf, adab mereka yang baik dan sifat lembutnya dalam menyampaikan kebenaran.
  7. Perbedaan jumlah pengikut para nabi, bahkan ada nabi  yang tidak memiliki pengikut.
  8. Dalil bukanlah berdasarkan jumlah yang banyak.
  9. Keutamaan Nabi Musa alaihissalam.
  10. Keutamaan umat muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atas umat yang lain.
  11. Semangat para sahabat untuk mendapat kebaikan.
  12. Bolehnya berdiskusi untuk mencari kebenaran.
  13. Orang yang menjaga keempat sifat yang di sebutkan dalam hadis berarti telah merealisasikan tauhid dan kelak akan masuk surga.
  14. Bolehnya meminta doa dari orang yang memiliki keutamaan.
  15.  Penggabungan antara hadis riwayat sya’bi dengan hadis riwayat ibnu abbas adalah hadis pertama membolehkan ruqyah jika persyaratannya terpenuhi sedangkan hadis ibnu abbas melarang rukyah jika syarat-syaratnya tidak terpenuhi.

Hubungan hadis dengan bab

            Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang menjaga keempat sifat yang di sebutkan itu dalam dirinya berarti ia telah merealisasikan tauhid dan kelak akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Diterjemahkan dari kitab al-jadid syarah kitab tauhid

Abu Layla Turahmin.

Tinggalkan komentar