FAWAID TA’LIM MASJID JAMILURRAHMAN

61 Pembaca

Fawaid Ta’lim

Masjid Jamilurrahman
Jum’at malam sabtu, 03 November 2023
Bakda isya, 19.28

Ulama yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah para ulama yang benar-benar mengamalkan Ilmunya.

Ulama yang tidak mengamalkan ilmunya tidak mendapat keutamaan- keutamaan yang di sampaikan dalam al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi justru mereka mendapat celaan dan ancaman azab yang pedih.

Adab seorang alim pada dirinya
Hendaknya seorang alim memiliki adab yang baik pada dirinya ada 12 macam adab yang hendaknya dimiliki:

1. Muroqobatullah Selalu merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan sir/ sendiri (hanya dirinya sendiri yang tahu) dan alan (di hadapan orang lain/terang-terangan) diketahui dirinya sendiri dan diketahui orang lain.

Muroqobatullah adalah seperti yang disebutkan dalam hadis jibril tentang ihsan yaitu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala seolah-olah melihat-Nya dan jika tidak bisa seperti itu hendaklah merasa benar-benar bahwa Allah itu melihatnya.

Yakin bahwa Allah mengetahui apa yang dikerjakan dan apa yang dipikirkannya.

Menjaga rasa takut kepada Allah dalam setiap gerak-geriknya baik gerak-gerik lisan, hati maupun perbuatan anggota badannya.

Dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangun di atas ilmu, adil, rahmat dan khosyyatullah (takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

Orang yang mewarisi warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya selalu merasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setiap gerak-gerik lahir batinnya.

Mengapa demikian?
Karena orang tersebut telah diamanahi ilmu dan panca indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba) oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Hendaknya kita selalu merasa malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya setiap waktu dengan selalu menjaga kepala dan kandungan kepalanya itu yaitu, mata, mulut, telinga, kulit dan otak.

Hendaknya seseorang selalu menjaga perut dan kandungannya terutama apa yang dimasukkan ke dalamnya, jaga kemaluan dan kaki kita.

Hendaknya seseorang menjaga amanah dari Allah berupa ilmu, panca indera dan pemahaman.

Penuntut ilmu itu bukan seperti orang yang tidak memiliki ilmu, orang alim beda dengan orang yang bukan orang alim, orang alim memiliki tanggung jawab yang sangat besar.

Allah melarang kita berhianat termasuk dilarang menghianati Allah subhanahu wa ta’ala.

Diamanahi ilmu bukan untuk bertakatsur (berbanyak banyakan ilmu) tapi ilmu itu untuk diamalkan.

Ilmu bukan untuk berbangga-bangga tapi ilmu untuk diamalkan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Allah menitipkan ilmu kepada kita supaya diamalkan, diajarkan kepada orang lain dan untuk meraih kebaikan yang sebanyak-banyaknya.

Janganlah menjadi seperti orang yahudi yang menyua-nyiakan ilmu dan tidak mengamalkannya karena hukumannya sangat besar.

Ilmu bukanlah yang dihafalkan tapi ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang dapat bisa mendatangkan manfaat untuk kita sendiri dan untuk orang lain.

Ilmu itu apa yang ada terpatri di dalam dada bukan yang tertulis dalam kitab.

Imam Ahmad hafal satu juta hadis dengan sanad-sanadnya.

Kita harus memiliki semangat yang tinggi untuk menghafalkan ilmu.

Ilmu bukan hanya sekedar dihafal tapi wajib diamalkan.

Orang alim hendaknya bersikap tenang dan kalem.

Sakinah ketenangan yang berkaitan dengan badan dan anggota badan.

Waqor adalah ketenangan yang berkaitan dengan hati, pandangan mata dan lisan.

Khusu’ adalah ketenangan yang berkaitan dengan hati dan anggota badan.

Tawadhu’ adalah rendah hati jika bertemu dengan orang lain selalu merasa bahwa orang lain itu lebih utama daripada dirinya, memandang dirinya remeh dan memandang orang lain lebih hebat.

Orang yang tawadhu’ karena Allah maka Allah akan mengangkat derajatnya.

Khudhu’ adalah tunduk dan patuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika engkau mengetahui ilmu hendaknya pengaruh ilmu itu terpancar pada dirimu, tenang dapam berbicara dan berwibawa secara natural bukan dibuat-buat.

Selalu berusaha napak tilas apa yang menjadi ciri khas kaum muslimin.

Hilm adalah sifat yang lebih tinggi daripada sabar atau biasa disebut santun.

Sabar hukumnya wajib dan hilm lebih tinggi daripada sabar, hilm adalah sifat yang tidak mudah marah, tidak mudah panas hati, tidak mudah dengki, jail, metakil dan panasten.

Tapi hal itu jangan sampai dijadikan sebagai senjata untuk menghukumi orang lain atau untuk mencela orang lain tapi hal itu justru harus digunakan untuk muhasabah diri kita.

Jangan suka mengorek-orek kesalahan orang lain tapi koreksilah diri kita sendiri.

Kareksilah diri kita jangan suka mengoreksi orang lain karena dampaknya sangat berbahaya bagi jiwa kita karena jika kita suka mengoreksi orang lain bisa jadi Allah akan menghukum kita dengan mematikan hati kita.

العلماء ورثة الأنبياء

Sebagai dalil bahwa ilmu yang kita miliki harus menumbuhkan sifat-sifat mulia pada diri kita dan pengaruh ilmu itu nampak pada diri kita karena kita harus mencontoh mereka para nabi dan para ulama yang memiliki sifat-sifat mulia dan tampak pengaruh ilmu pada diri mereka.

Ilmu hendaknya mengantarkan seseorang kepada ketakwaan dan khosyyatullah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kewajiban seorang alim adalah tawadhu merendahkan diri terhadap orang lain tidak merasa lebih tinggi, selalu menjaga hawa nafsunya, dan jika tidak mengetahui ilmunya ketika ditanya hendaknya tidak sembrino menjawabnya cukup katakan “saya tidak tahu wallahu a’lam bishowab”.

Imam malik pernah ditanya empat puluh tiga pertanyaan tapi hanya menjawab tiga pertanyaan.

Senjata pamungkas orang alim adalah “saya tidak tahu”.

Abu Layla Turahmin, M.H.
20.06

Tinggalkan komentar