FAWAID TA’LIM MASJID JAMILURROHMAN

54 Pembaca

Ahad 17 juni 2023, Masjid Jamilurrohman bakda subuh.
Hadis arbain ke 20

عن أبي مسعود عقبة ابن عمرو الأنصار رضي الله عنه: إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى، إذا لم تستحي فأسمع ما شئت

“Sesungguhnya termasuk ucapan kenabian yang terdahulu yang dijumpai manusia adalah “Apabila engkau tidak malu lakukanlah apa yang engkau kehendaki”.

Macam-macam syari’at para nabi dan rasul terdahulu dalam syari’at Islam:

Pertama: syari’at nabi-nabi terdahulu yang ditetapkan dalam syari’at islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka syari’at tersebut diperintahkan untuk dikerjakan.

Kedua: syari’at nabi-nabi terdahulu yang bertentangan dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka syari’at tersebut dilarang dan tidak boleh dikerjakan.

Ketiga: syari’at nabi-nabi terdahulu yang tidak dilarang dan tidak diperintahkan dalam syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hukumnya boleh disampaikan tapi bukan dalam perkara-perkara inti (ushul).

فاصنع ما شئت

Pendapat para ulama tentang makna fashna’ maa syi’ta:

Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam فاصنع adalah fi’il amr (kata kerja perintah) meskipun bentuknya fi’il amr tapi maksudnya adalah ancaman.

Sebagian ulama lain memaknai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebagai ibahah (dibolehkan), artinya jika perkara yang hendak dikerjakan itu bukan sesuatu yang memalukan tidak menyebabkan malu kepada Allah, malaikat dan kepada diri sendiri maka boleh dikerjakan.

Sebagian ulama lain berpendapat maknanya adalah al ihbar (berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) bahwa sesuatu yang menghalangi manusia melakukan kemaksiatan adalah rasa malu.

Sifat malu pasti akan mendatangkan kebaikan.

Jika ada orang yang berkata:”Ada rasa malu yang mendatangkan keburukan, seperti malu menuntut ilmu, malu melaksanakan syari’at islam dll apakah sifat malu itu mendatangkan kebaikan?”

Jawab: ” Pada hakekatnya sifat seperti itu meskipun sangat mirip dengan sifat malu tapi bukan sifat malu sifatvterswbut adalah sifat pengecut dan kelemahan.

Malu melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan malu menuntut ilmu itu sebenarnya bukan malu tapi merupakan sifat kelemahan dan pengecut.

Malu akan mendatangkan keajaiban bagi orang tersebut.

Hadis ke 21

عن أبي عمرو – قيل أبي عمرة – رضي الله عنه قال قلت، يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل أحدا غيرك, قال، قل آمنت بالله ثم استقم. رواه مسلم.

Dari Abu amrin -dikatakan Abu Amroh – Wahai Rasulullah beritahukanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya seorangpun selain engkau. Beliau bersabda, ‘Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah.’ HR: Muslim.

Hadis ini menjelaskan bahwa para sahabat adalah orang-orang sangat semangat menuntut ilmu

Cara supaya sukses menuntut ilmu
Hati yang berakal
Lisan yang selalu bertanya

Ilmu adalah soal dan jawab yaitu pertanyaan yang baik dan jawaban yang baik.

Para sahabat dalam menimba ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan cara sering bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis tersebut terdapat perintah supaya beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala,

Iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala meliputi dua perkara dan harus dipenuhi:

Pertama: mengimani adanya Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua: mengimani rububiyah (perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengimani uluhiyah Allah (hanya Allah yang wajib diibadahi) dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Istiqomah

Pengertian istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus tanpa menyimpang ke kanan dan ke kiri, shirotol mustaqim adalah jalan yang lurus maksudnya adalah Islam yang porosnya adalah ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan taat kepada Allah ta’ala karena semua yang dibawa beliau berasal dari Allah ta’ala.

Kita harus istiqomah untuk selalu mepelajari kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak mungkin kita bisa istiqomah jika tidak mengetahui ilmunya.

Hadis 22
عن أبي عبد الله جابر ين عبد الله الأنصار ي رضي الله عنهما أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يا رسول الله أرأيت إذا صليت صلاة المكتوبة وصمت رمضان و أحللت الحلال وحرمت الحرام ولم أود على ذلك شيئا أأدحل الجنة؟ قال: نعم. والله لا أريد على ذلك شيئا. رواه مسلم.

Hukum meyakini halalnya sesuatu yang haram:

Jika keyakinan tersebut tetap dilakukan padahal hujjah sudah disampaikan kepadanya dan subhat sudah tidak ada maka hukumnya orang tersebut sudah terjatuh ke dalam kekufuran.

Jika seseorang melakukan sesuatu yang haram dan meyakini perkara itu halal maka ia telah terjatuh dalam kekufuran.

Tapi jika ia melakukan perkara yang haram tersebut dan hatinya tetap meyakini keharamannya maka ia telah terjatuh dalam keharaman.


Fawaid hadis:

Shalat wajib hanya shalat lima waktu.

Diperbolehkan seseorang hanya mengerjakan perkara-perkara yang wajib tanpa mengerjakan yang sunnah.

Meskipun demikian tetap dianjurkan melakukan perkara-perkara yang sunah karena perkara yang sunah akan menyebabkan Allah mencintainya.

Hadis 23

عن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، الطهور شطر الإيمان والحمد لله تملأ الميزان وسبحان الله والحمد لله تملأن – أو تملأ – ما بين السماء والأرض، والصلاة نور., والصدقة برهان, والصبر ضياء والقرآن حجة لك أو عليك، كل الناس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موقفها. رواه مسلم.

Dari Abi Malik al-Harits bin Ashim al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kesucian adalah separuh dari iman (ucapan) al-hamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan, (ucapan) subhanallah (maha suci Allah) dan al-hamdulillah (segala puji bagi Allah) keduanya memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, puasa adalah burhan (bukti) dan sabar adalah dhiya’ (cahaya yang membakar) dan al-Qur’an adalah hujjah bagimu atau hujjah atasmu, setiap orang mendapati waktu pagi seseorang menjual dirinya sehingga memerdekakannya atau membinasakannya. HR: Muslim.

Bersuci ada dua macam yaitu:

Pertama: bersuci secara hissi
Bersuci secara hissi adalah membersihkan fisik.

Kedua: bersuci secara maknawi
Bersuci secara maknawi adalah membersihkan hati dari kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit hati.

Iman ada dua perkara yaitu:

Pertma: Membersihkan diri dari berbagai macam kotoran-kotoran yang sifatnya hissi maupun maknawi.

Kedua: berhias dengan akhlak-akhlak yang mulia dan amal-amal sholih.

Ucapan alhamdulillah akan memenuhi timbangan amal seseorang diakhirat kelak.

Diakhirat jasad kita, amalan kita dan catatan amal kita akan ditimbang oleh Allah subhanahu wa ta’ala di akhiratvkelak dengan timbangan yang hakiki.

Timabangan di akhirat benar-benar timbangan dan timbangan itu yang memiliki satu penyangga dan dua neraca.

Shalat adalah cahaya bagi orang-orang yang melakukannya.

Di dunia orang-orang yang senantiasa shalat wajahnya akan bersinar berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah mengerjakan shalat

Di kubur nanti orang-orang mukmin (orang-orang yang shalat) akan tidur dengan nyaman seperti pengantin baru dan kuburnya akan diluaskan, akan datang menemaninya seseorang yang berbau wangi dan bercahaya, yang orang tersebut ternyata adalah amal perbuatan baiknya ketika di dunia dahulu.

Shalat adalah cahaya bagi hati seseorang, semakin rajin seseorang shalat akan semakin bercahaya dan akan mampu membedakan antara yang hak dan batil.

Para ulama dahulu sebelum menulis hadis mereka mengerjakan shalat terlebih dahulu untuk memohon pertolongan kepada Allah ta’ala supaya bisa melihat kebenaran mana hadis yang benar dan mana yang tidak benar.

Shalat adalah cahaya

Jika kita sedang dirundung bingung atau dirundung kesulitan hendaknya segera mengerjakan shalat dan mohon pertolongan kepada Allah supaya bingung dan kesulitannya itu dihilangkan.

Shodaqoh adalah hujjah

Shodaqoh adalah hujjah yang menunjukkan keimanan seseorang karena biasanya seseorang akan sangat sayang kepada hartanya dan akan bersifat bakhil, ketika orang tersebut bershodaqoh berarti itu menunjukkan kokohnya keimanan yang ada dalam hatinya, kalau bukan karena dorongan iman dia tidak akan bershodaqoh.

Sabar adalah sinar (cahaya yang memiliki sifat membakar).

Sabar adalah syi’ar yang ada kaitannya dengan hati, lisan dan perbuatan anggota badan kita.

Sabar ada dalam hati, lisan dan anggota badan kita.

Sabar ada tiga macam:

Sabar diatas ketaatan

Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan

Sabar menghadapi taqdir Allah yang menurut kita buruk.

Sabar adalah cahaya yang menyinari kita.

Shalat shodaqoh dan sabar semua disifati dengan cahaya tapi masing-masing cahaya tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda dan cahaya tertinggi adalah cahaya yang ada pada kesabaran.

Karena orang tidak akan mampu shalat, shodaqoh dan melakukan amalan-amalan yang lain tanpa adanya kesabaran.

Ketiga amalan yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah amalan yang semuanya memiliki cahaya.

Nabi menyebutkan sabar sebagai tingkatan tertinggi karena sabar itulah yang akan menentukan kemampuan seseorang dalam beramal sholih.

Semua membutuhkan kesabaran.

Tidak ada pemberian Allah yang lebih baik bagi seseorang melebihi kesabaran.

Iman ada dua yaitu separuhnya sabar dan separuhnya syukur.

Untuk meraih kebahagiaan akhirat harus didasari dengan kesabaran.

Dhiya’ adalah cahaya yang memiliki sifat membakar sehingga sabar disifati dengan sifat dhiya’ karena sabar memang membakar dan butuh perjuangan keras.

Sabar adalah sangat pahit tapi hasilnya lebih manis daripada madu.

Al-Qur’an akan menjadi hujjah yang membela kita atau hujjah yang melawan kita.

Jika kita hidup bersama al-Qur’an, membacanya, mengamalkannya dan mendakwahkannya maka al-Qur’an akan menjadi hujjah bagi kita yang akan membela kita kelak di akhirat.

Tapi jika kita tidak hidup bersama al-Qur’an, tidak mau membacanya, tidak mempelajarinya tidak mengamalkannya dan tidak mendakwahkannya maka al-Qur’an akan menjadi hujjah yang menentang kita.

Tapi sayang di zaman sekarang banyak orang-orang islam yang tidak mengenal al-Qur’an bahkan para tholabul ilmipun mengalaminya.

Setiap manusia memasuki waktu pagi ada yang beramal sholih sehingga membebaskan dirinya dari azab Allah dan ada yang beramal buruk sehingga dia mencelakakan dirinya sendiri dan sebaik-baik orang adalah orang-orang yang membebaskan dirinya dari azab Allah dengan beramal shalih.

Risalah dari Allah, Rasulullah yang menyampaikan dan kewajiban kita adalah mengimani dan mengamalkannya.



Hadis 24

عن أبي ذر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه سبحانه وتعالى أنه قال: يَاعِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا, يَاعِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ, يَاعِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ, يَاعِبَادِي كُلُّكُمْ عَار إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ, يَاعِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ, يَاعِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي, يَاعِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا, يَاعِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَانَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا, يَاعِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَانَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ المِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ البَحْرَ, يَاعِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Jika ada hadis diawali dengan lafadz fiima yarwiihi ‘an Robbihi maka hadis tersebut adalah hadis qudsi.

Perbedaan hadis qudsi an al-qur’an
Hadis qudsi tidak boleh dibaca ketika shalat sedang al-qur’an untuk dibaca ketika shalat bahkan ada yang menjadi rukun shalat

Membaca hadis qudsi tidak bernilai pahala seperti al-qur’an karena membaca al-qur’an satu huruf bernilai satu pahala dan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.


Allah mengharamkan kezholiman atas diri-Nya sendiri, dengan hikmah-Nya yang agung dan sempurna sehingga mustahil Allah subhanahu wa ta’ala melakukan kezholima terhadap para hamba-hambanya.

Allah mengharamkan perbuatan zhalim kepada para hamba-hamba-Nya.

Zhalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Zhalim ada dua yaitu:

Pertama: Kezhaliman seorang hamba kepada diri sendiri.

Yaitu kezholiman karena melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena akibat buruk kezhaliman tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri dan kezhaliman terbesar kepada diri sendiri adalah berbuat kesyirikan.

Jiak ada orang yang melarang orang lain menjelaskan kesyirikan baik syirik besar maupun syirik kecil maka orang tersebut telah melakukan kezhaliman yang sangat besar.

Kezhaliman seorang hamba kepada orang lain.

Kezhaliman terhadap orang lain bisa dengan hati, lisan dan bisa dengan anggota badan.

Contoh sifat zhalim adalah hasad.

Hasad bisa menyebabkan pandangan mata jahat (‘ain).

Pandangan mata jahat (‘ain) yang biasanya disebabkan karena hasad adalah perbuatan yang sangat jahat dan berbahaya.

Jika kita kagum kepada sesuatu hendaknya ucapkan subhanallah atau masyaallah.

Sombong termasuk sifat zhalim.

Zhalim kepada orang lain dengan lisan kita seperti mencela dan memaki.

Zhalim harus dihindari karena zhalim kepada orang lain tidak akan diampuni jika tidak meminta dihalalkan.

Sejelek-jelek bekal seseorang ketika menghadap Allah adalah menzhalimi orang lain karena pada hari kiamat pasti akan dibalas oleh Allah dan amal-amal kebaikan kita akan diambil dan diberikan kepada orang-orang yang dizhalimi.

Jagalah lisan karena lisan itu ibaratnya seperti ular besar yang berbisa.

Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan memberi pertolongan kepada orang-orang yang terzhalimi kapanpun waktunya dan doa orang yang terzhalimi adalah maqbul.

Takutlah terhadap orang yang kamu zhalimi meskipun orang tersebut adalah orang kafir dan mintalah dihalalkan.

Allah subhanahu wa ta’ala yang memberikan petunjuk kepada kita oleh karena itu kita harus selalu meminta petunjuk kepada Allah.

Hidayah ada dua yaitu:

Hidayah secara global dan hidayah secara rinci.

Hidayah sangatlah penting dan menjadi prioritas utama sehingga setiap shalat kita selalu meminta hidayah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kenapa kita selalu meminta supaya diberi petunjuk ke jalan yang lurus setiap kali shalat padahal kita sudah muslim?

Karena kita setiap saat membutuhkan hidayah dari Allah subahanahu wa ta’ala untuk melakukan amal shalaih dan membutuhkan hidayah dari Allah supaya istiqomah dalam mengamalkannya.

Abu Layla Turahmin. M.H.

Tinggalkan komentar