IMAN KEPADA HARI KEBANGKITAN

128 Pembaca

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قال الله تعالى في القرآم الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

‘ibadallah… jama’ah jum’at rohimani wa rohimakumulahu jami’an…

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan kenikmatan-kenikmatan-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman dan nikmat islam, dua buah nikmat yang sangat agung yang dianugerahkan Allah kepada kita semua, dua nikmat yang tidak diberikan kecuali hanya kepada orang-orang yang dicintainya.

Oleh karena itu marilah kita benar-benar bersyukur kepada Allah dan kita jaga nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya, dua buah nikmat yang terbesar yang tidak boleh ditukar dengan apapun sampai kita menghadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Jama’ah jum’at rohimani wa rohimakumullahu jami’an…

Pada kesempatan khutbah jum’at ini saya selaku khotib ingin mengingatkan kepada diri saya sendiri dan kepada jama’ah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Artinya: Berbekallah kalian semua (dengan bekal takwa) karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS: Al-Baqoroh:197).

Kemudian sholawat dan salam kita panjatkan kepada baginda nabi kita, nabi muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Jama’ah Jum’at rahimani wa rahimakumullah jami’an

Kewajiban Beiman Kepada Hari Kebangkitan

pada kesempatan khutbah jum’at ini khotib ingin menyampaikan tentang kewajiban untuk beriman kepada adanya hari kebangkitan dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa hari kebangkitan itu akan terjadi.

Hari kebangkitan merupakan salah satu bagian dari rukun iman yang kelima yaitu beriman kepada hari akhir karena hari kebangkitan merupakan bagian dari hari kiamat tersebut, pada hari itu setelah ditiup sangkakala pertama oleh malaikat isrofil semua manusia dan makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan mati dan alam semesta akan dibinasakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kemudian setelah itu akan ditiup kembali sangakala yang kedua dan semua manusia akan dibangkitkan kemabali dari alam kubur, kemudian digiring ke padang mahsyar untuk diadili, dimintai pertanggung jawabannya terhadap setiap amal perbuatannya selama di dunia kemudian akan dibalas sesuai amal perbuatan tersebut, jika amalanya baik maka akan dibalas dengan kebaikan tapi jika amalannya buruk maka akan dibalas dengan balasan yang buruk.

الجزاء من جنس العمل

“Balasan sesuai jenis perbuatannya.”

Dalam sebuah hadis yang disebut dengan nama hadis Jibril Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat jibril tentang iman, beliau menjawab bahwa iman adalah,

.أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Kamu beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, hari akhir dan kamu beriman kepada taqdirnya yang baik dan yang buruk.”

Bukti-bukti Adanya Hari Kebangkitan

Apakah ada diantara kita yang ragu dengan adanya hari kebangkitan setelah kematian?

Kalau tidak ada alhamdulillah itu nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala, karena orang yang beriman kepada hari kebangkitan sama dengan orang yang beriman kepada adanya hari kiamat sebab beriman kepada hari kebangkitan merupakan bagian dari iman kepada hari hari kiamat yang merupakan rukun iman kelima.

Tapi kalau ada diantara kita yang ragu dengan adanya hari kebangkitan coba perhatikan ayat-ayat berikut:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, dalam surat an-Nazi’at ayat: 27-33,

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقاً أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا (29) وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32) مَتَاعاً لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33). النازعات: 27-33

(27) Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, (28) Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, (29) dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. (30) Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. (31) Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (32) Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,(33) (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang qudroh (kemampuan)-Nya dalam menciptakan langit yang demikian megah, tinggi, kokoh, halus dan tanpa ada satupun tiang yang menyangganya.

Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kepada umat manusia terutama orang-orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan dengan pertanyaan yang disebut istifham ingkari yaitu pertanyaan yang fungsinya untuk mengingkari orang-orang yang tidak percaya adanya hari kebangkitan dan menetapkan bahwa hari kebangkitan itu pasti akan terjadi, percaya atau tidak percaya dengan adanya hari kebangkitan itu, sama sekali tidak akan mempengaruhi akan adanya hari kebangkitan tersebut. kalua kita mempercayainya maka manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri, akan tetapi kalau kita mengingkarinya maka jangan sekali-kali kita mencela kecuali kepada diri kita sendiri, karena orang yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan kelak orang tersebut telah hilang keimanannya dan kelak di akhirat akan mendapat hukuman dari Allah subhanahu wa ta’ala.

dalam ayat tersebut Allah subahanahu wa ta’ala mengajak umat manusia untuk berfikir dan merenungi tentang ciptaan-Nya yang berupa,

  1. Langit yang demikian tinggi, kokoh, halus dan rata seperti kaca tidak ada retaknya sama sekali, langit yang demikian tebal yang tebalnya sejauh lima ratus tahun perjalanan, langit yang demikian luas tanpa ada tiangnya satupun dan tidak ambruk, apakah langit yang demikian itu lebih sulit untuk diciptakan ataukan manusia yang telah diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang berasal dari sari pati tanah yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam kemudian dari Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan istrinya hawa dan setelah itu manusia diciptakan dari setetes air yang memancar, yang berada di dalam rahim selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari, kemudian berupa segumpal daging selama empat puluh hari, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga menjadi makhluk hidup yang sangat lemah selama kurang lebih sembilan bulan dalam kandungan, kemudia dilahirkan dimukan bumi ini dan berkembang terus sampai menjadi manusia sempaurna. Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kepada kita apakah kita lebih sulit diciptakan ataukah langit yang demikian megah? tentu langit lebih sulit diciptakan daripada manusia. kalau Allah subhanahu wa ta’ala sanggup dengan mudah menciptakan langit yang demikian luarbiasa itu dan mampu menciptakan manusia yang sebelumnya belum ada tantu sangat mampu untuk membangkitkan kemabali manusia setelah kematiannya kelak pada hari kiamat. jadi tidak ada alasan sedikitpun bagi umat manusia untuk tidak mempercayai adanya hari kebangkitan di akhirat setelah kematian kelak.
  2. Malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang silih berganti setiap hari, siapa yang membuat seperti itu? tentu jawabannya adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang membuatnya. kalau Allah mampu menjadikan malam gelap gulita, kemudian siang terang benderang terus menerus secara silih berganti tentu Allah sanggup dan mudah untuk membangkitkan kembali manusia setelah kematiannya.
  3. Bumi yang dihamparkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah menghamparkan bumi yang demikian luas sebagai tempat tinggal bagi kita umat manusia sampai waktu yang telah ditentukan-Nya, kemudian setelah itu manusia akan mati. Allah yang telah menghapmarkan bumi seperti itu tentu sangat mampu untuk membangkitkan kembali manusia setelah kematiannya kela di akhirat.
  4. Mata air yang dikeluarkan dari bumi dan tanam-tanaman yang beraneka ragam yang semuanya diberikan kepada manusia, yang terkadang tanaman-tanaman tersebut telah berguguran daun-daunnya kemudian setelah turun hujan tanaman-tanaman itu berdaun kembali seperti semula, Allah subhanahu wa ta’ala yang mampu berbuat seperti itu tentu sangat mampu untuk membangkitkan kembali manusia setelah kematiannya kelak di akhirat.
  5. Gunung-gunung yang dipancangkan sebagai pasak bumi supaya bumi ini tidak bergoncang. coba lihat…! gunung yang demikian besar dan kokoh yang jika dibandingkan manusia, manusia sangatlah kecil tidak ada apa-apanya. Allah subhanahu wa ta’ala yang mampu memancangkan gunung-gunung yang demikian besar itu tentu sangat mampu untuk membangkitkan kembali manusia setelah kematiannya kelak di akhirat.

Itulah sebagian kecil bukti-bukti yang bisa kita lihat dengan kasat mata tentang kemaha kuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang maha sempurna, yang tentu kalau kita mau memperhatikan secara sungguh-sungguh, masih sangat banyak sekali bukti kekuasaan-Nya yang lain yang semuanya menunjukkan betapa mudahnya Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkan kembali manusia setelah kematiannya kelak di akhirat.

Masihkah kita ragu dengan adanya hari kebangkitan?

tentu setelah ini tidak ada lagi keraguan sedikitpun dalam hati kita tentang adanya hari kebangkitan kelak setelah hari kiamat kelak. Dan itu sangat mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kita wajib beriman kepada hari kebangkitan karena hari kebangkitan itu termasuk bagian dari iman kepada hari kiamat yang merupakan rukun iman kelima.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات وذكر الحكيم
أقول قولي هذا أستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

Ma’asyirol Muslimin Rahimani wa Rahimakumullahu Jami’an

Pada khutbah kedua ini khotib kembali mengingatkan kepada diri khotib pribadi dan jama’ah jum’at sekalian, bahwa iman kepada hari kebangkitan merupakan bagian dari salah satu rukun iman yang kelima yaitu iman kepada hari akhir, sebagai kaum muslimin tentu kita wajib beriman kepada adanya hari kebangkitan tersebut, jangan sampai kita ragu atau tidak mengimaninya, karena kalau tidak mengimaninya kita sendiri yang akan merugi, karena orang yang tidak percaya kepada hari kebangkitan hidupnya cenderung tidak terkontrol dan semaunya sendiri, sehingga tidak memperdulikan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala yang tentunya sikap tersebut sangat merugikan karena setiap perbuatan kita akan dihisab dan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat setelah hari kebangkitan itu terjadi, berbeda dengan orang-orang yang mengimani adanya hari kebangkitan itu dia akan berhati-hati dalam menjalani hidup ini dan akan berusaha memperbanyak amal shalih yang amal shalih tersebut kelak akan sangat bermanfaat baginya dan dia akan mendapat balasan berupa pahala yang sangat besar di sisi-Nya.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Abu Layla Turahmin, M.H.
Jum’at, 22 Desember 2023

Tinggalkan komentar