MENITI JALAN YANG LURUS

34 Pembaca

Meniti Jalan yang Lurus

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

قال الله تعالى في القرآم الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman, dan nikmat Islam, yang merupakan nikmat terbesar yang diberikan kepada kita, dan tidak semua orang diberikan nikmat tersebut, karena Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikannya kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Kedua nikmat ini harus kita jaga dengan baik dan tidak boleh kita tukar dengan apapun yang ada di dunia ini hingga ajal menjemput kita.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya kita bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita, hendaknya kita tunduk dan patuh kepada-Nya dengan benar-benar bersyukur kepada-Nya dan jangan sampai kita kufur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim: 7,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).

Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah berfirman,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung kenikmatan-kenikmatan Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).

Ayat ini menegaskan kepada kita semua bahwa nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah diberikan kepada kita sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya, bahkan kita tidak akan mampu untuk menghitungnya dengan alat apa pun, hal ini lebih menegaskan kepada kita supaya kita benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam bersyukur kepada-Nya jangan sampai kita menjadi orang-orang yang ingkar.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada baginda Nabi kita yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan tema “Meniti Jalan yang Lurus“.

Meniti jalan yang lurus merupakan kewajiban kita sebagai umat Islam, karena Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kita supaya menempuh jalan tersebut dan tidak menempuh jalan yang lain yang menyimpang. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَأَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِه ۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِه لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. سورة الأنعام: 153

Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. QS: Al-An’am: 153.

Pengertian Jalan yang Lurus

Pengertian jalan yang lurus yang wajib kita tempuh adalah sebagai berikut:

  • Al-Qur’anul Karim dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disucikan.
  • Agama Islam yang bijaksana, syari’at Islam yang lurus atau agama yang hanif.
  • Jalan dan agama Allah subhanahu wa ta’ala yang diridhoi untuk hamba-hamba-Nya.
  • Agama-Nya yang hak (benar).

Jika diperhatikan dengan seksama pengertian-pengertian tentang jalan yang lurus tersebut maknanya sama, yaitu agama islam yang murni yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Dalil-Dalil Tentang Kewajiban Mengikuti jalan yang lurus

Banyak dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan kepada kita supaya mengikuti jalan yang lurus tersebut, diantaranya,

Dalil dari Al-Qur’an:

Berikut ini akan saya paparkan dalil-dalil dari Al-Qur’an yang memerintahkan kepada kita supaya meniti jalan yang lurus dan tidak menempuh jalan yang lain, karena jalan yang lain akan menjerumuskan kita ke dalam kesesatan dan kebinasaan,

Pertama: Surat al-Fatihah ayat: 6-7

 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  ” الفاتحة: 6، 7

Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. QS: Al-Fatihah: 6-7.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimin untuk memintak petunjuk bimbingan ke jalan yang lurus yaitu jalan yang tidak ada beloknya sedikitpun, jalan yang lurus benar-benar lurus mengikuti petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, jalan yang lurus adalah dengan masuk ke dalam agama Islam, karena selain agama Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.Islam adalah agama yang hak.

Jalan yang lurus adalah jalan yang telah dianugerahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Tafsir Ibnu katsir: 136-140

Kedua: Surat al-An’am ayat: 151

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا. سورة الأنعام: 151

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kemarilah! Aku akan membacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu, (yaitu) janganlah mempersekutukan-Nya dengan apa pun. QSL Al-An’am: 151.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya memanggil orang-orang yang menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan membacakan kepada mereka apa saja yang diharamkan-Nya, yang paling dasar adalah supaya mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun karena menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala termasuk mengikuti jalan yang menyimpang dari jalan yang lurus yaitu mentauhidkan-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka semua supaya kembali ke jalan yang benar yaitu hanya menyembah Tuhan yang satu yaitu Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan semua sesembahan-sesembahan yang ada. hal inipun berlaku bagi kaum muslimin kaum muslimin hendaknya meniti jalan yang lurus dengan mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan kesyirikan, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Tafsir Ibnu Katsir: Juz: 3, Hal: 359.

Ketiga: Surat al-Hasyr ayat: 7

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ. سورة الحشر: 7

Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. QS: al-Hasyr: 7.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimin supaya mengikuti apa saja yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan apapun yang dilarang olehnya tanpa mebantahnya sama sekali karena yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti berupa kebaikan dan apa saja yang dilarang olehnya pasti merupakan keburukan yang berdampak negatif.

Dalam hadis riwayat Bukhori Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيرة؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Aku memerintahkan kepada kalian sebuah perintah kerjakanlah semampu kalian, dan apa yang aku larang untuk kalian tinggalkanlah. Tafsir Ibnu Katsir: Juz: 8, Hal: 67-68.

Keempat: Surat ali-Imron: 31

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ. سورة آل عمران: 31

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS: Ali Imron: 31.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimin jika mereka mencintai Allah subhanahu wa ta’ala maka mereka harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ayat ini menjadi penentu siapakah yang benar-benar mencintai Allah subhanahu wa ta’ala. orang-orang yang benar-benar mencintai Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang menempuh jalan yang telah ditetapkan oleh Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa ta’ala tapi tidak menempuh jalan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dianggap sebagai orang-orang yang pengakuan cintanya kepada Allah itu dusta.

Orang-orang yang mau menempuh jalan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat balasan cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tafsir Ibnu Katsr: Juz: 2, Hal: 32.

Kelima: Surat al-Ahzab: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ. سورة الأحزاب: 21

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. AL-Ahzab: 21.

Ayat ini menjadi landasan bagi kaum muslimin untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua sisi kehidupannya, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan bagi semua kaum muslimin, kita harus meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkataan, perbuatan dan keadaan kita, kita harus meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesabaran, ibadah, muamalah, kegigihan dan perjuangannya. kita tidak boleh menyimpang dari teladan yang telah dia contohkan olehnya.

Dengan meneladaninya kita akan menjadi orang-orang yang beruntung dan selamat di dunia ini maupun di akherat kelak, karena teladan yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita pasti teladan yang terbaik yang akan mengantarkan kita kepada keberuntungan. Tafsir Ibnu Katsir, Juz: 6, Hal: 391.

Keenam: Surat an-Nisa: 65.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. النساء: 65

Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya. QS: An-Nisa: 65.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan menyebut diri-Nya sendiri dan menyatakan bahwa tidak ada satupun orang yang benar-benar beriman kepada-Nya, sampai orang tersebut bersedia menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemutus perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian setelah keputusan ditetapkan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak didapati pada diri mereka rasa berat/sesak sedikitpun di dada mereka terhadap keputusan yang telah ditetapkannya, dan mereka mau menerimanya dengan penuh kepasrahan tanpa penolakan sedikitpun. Tafsir Ibnu Katsir: Juz: 2, Hal: 349

Ketujuh: Surat an-Nisa: 59

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ . سورة النساء: 59

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). QS: AN-Nisa: 59.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyeru semua orang-orang yang beriman supaya taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mutlak tidak boleh menyelisihinya sama sekali, kemudian memerintahkan kepada mereka supaya mentaati pemimpin di antara mereka, jika terjadi perselisihan di antara mereka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya mengembalikan perselisihan itu kepada Al-qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya solusi untuk menyatukan perbedaan tersebut.

Perlu diingat bahwa ketaatan kepada pemerintah (waliyul amr) tidaklah mutlak, kita wajib mentaati mereka dalam perkara-perkara yang tidak menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, jika perintah mereka menyelisihi Allah dan Rasul-Nya kita tidak memiliki kewajiban untuk mentaatinya.

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

عَنْ عَبْدِ الله بن عمر،عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

]Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim wajib mendengar dan taat terhadap pemimpin baik dalam perkara yang disenanginya maupun yang dibencinya, selama pemimpin itu tidak memerintahkan kepada kemaksiatan, namun jika pemimpin itu memerintahkan kepada kemaksiatan, maka tidak ada mendengar dan taat kepadanya. Tafsir Ibnu Katsir: Juz: 2, Hal: 342-342.

Kedelapan: Surat an-Nur: 63

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ. سورة النور: 63

Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. QS: An-Nisa: 63.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita supaya jangan sampai menyelisihi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena bisa menyebabkan kesengsaraan bahkan Allah subhanahu wa ta’ala memberi peringatan kepada orang-orang yang menyelisihinya supaya berhati-hati kalau sampai tidak mau kembali ke jalan yang benar dengan menaatinya, ia akan terkena fitnah atau akan mendapat azab yang pedih.

Adab kita terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meneladaninya dengan cara tunduk dan patuh kepadanya.

Dalil-dalil dari Hadis-Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Berikut ini dalil-dalil dari hadis-hadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kewajiban untuk meniti jalan yang lurus,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَطًّا ثُمَّ قَالَ: «هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، وَقَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ» ، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ الْآيَةَ.[1]

Dari Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat sebuah garis.” kemudian bersabda: “Ini adalah jalan Allah.” kemudian beliau kembali membuat garis-garis lainnya di kanan kiri garis tersebut, lalu bersabda: “Ini adalah jalan-jalan lain yang di atasnya ada setan yang menyeru (manusia) supaya mengikuti jalan tersebut.” kemudian beliau membaca ayat: Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Al-Ayat.

عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال: (وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة بليغة وجلت منها القلوب، وذرفت منها العيون، فقلنا: يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا. قال: (أوصيكم بتقوى الله. والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي، وإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا. فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل بدعة ضلالة) رواه أبو داود والترمذي، وقال حديث حسن صحيح

النواجذ، بالذال المعجمة: الأنياب، وقيل الأضراس[2]

Dari Abu Najih ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang sangat menyentuh, sehingga menyebabkan hati menjadi takut dan air mata bercucuran,” Lalu kamipun berkata: “Wahai Rasulullah, Nasehat ini seperti sebuah nasehat perpisahan, berikanlah kepada kami wasiat,” Beliau bersabda; “Aku wasiatkan kepada kalian supaya bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun yang memimpin kalian adalah budak dari Habasyah, karena sesungguhnya siapapun diantara kamu hidup (berumur panjang) ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, Gigitlah sunah itu dengan gigi gerahammu, dan hati-hatilah kalian perkara yang baru dalam urusan agama ini, karena setiap perkara yang baru (dalam perkara agama ini) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” HR: Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata Hadis Hasan Shahih.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا خَطًّا، ثُمَّ قَالَ: (هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ) ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَخُطُوطًا عَنْ يَسَارِهِ ثُمَّ قَالَ (هذه سبل على كل سبيل مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهَا) ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ. الجامع لأحكام القرآن، للإمام القرطبي، الجزء: 7، الصفحة: 137

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis untuk kami, kemudian bersabda, “Ini adalah jalan Allah” kemudian beliau membuat kembali garis-garis lainnya di kanan dan kirinya, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan-jalan yang lain yang diatasnya ada setan yang menyeru ke jalan tersebut.” kemudian beliau membaca ayat ini. al-Jami’ li ahkamil qur’an, lil imam Qurthubi, Juz: 7, Hal: 137.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَخَطَّ خَطًّا، وَخَطَّ خَطَّيْنِ عَنْ يَمِينِهِ، وَخَطَّ خَطَّيْنِ عَنْ يَسَارِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ فِي الْخَطِّ الْأَوْسَطِ فَقَالَ: (هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ- ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ-” وَأَنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ. الجامع لأحكام القرآن، للإمام القرطبي، الجزء: 7، الصفحة: 138

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau membuat sebuah garis dan membuat membuat kembali sebuah garis di kanan dan kiri garis tersebut, lalu beliau meletakkan tangannya di garis yang tengah, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan Allah, lalu beliau membaca ayat ini,

وَأَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِه ۗ

Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya.

Penjelasan

Dari ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kita dapat menarik sebuah kesimpulan, bahwa kita wajib untuk meniti jalan yang lurus, yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu agama Islam yang telah diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pedoman hidup yang akan menyelamatkan kita dari kebinasaan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Orang-orang yang mau meniti jalan yang lurus yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta‘ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka pasti akan selamat dan tidak akan pernah tersesat selama-lamanya, ia akan selamat di dunia ini dan akan selamat di akhirat kelak dengan masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.

Orang-orang yang mau meniti jalan yang lurus kemudian istiqomah terus menerus menempuh jalan tersebut hingga akhir hayatnya pasti akan beruntung dan dijauhkan dari kebinasaan, oleh karena itu marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk terus menerus istiqomah dalam meniti jalan tersebut hingga ajal menjemput kita.

Kemudian kita harus menjauhi jalan yang lain yang menyimpang dari jalan lurus tersebut, karena jalan-jalan lain yang menyimpang atau yang bukan merupakan jalan yang lurus hanya akan memecah belah persatuan umat Islam dan hanya akan mengantarkan kita ke jurang kebinasaan baik di dunia ini maupun di akherat kelak, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang dimaksud dengan jalan-jalan yang menyimpang adalah sebagai berikut:

  • Menganut selain agama Islam.
  • Bid’ah dan syahwat (hawa nafsu) sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Mujahid, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan subul (jalan-jalan) yang lain adalah al-Bida’ dan Asy-Syubuhat.
  • Kesesatan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan subul adalah “Jangan kamu mengikuti adh-Dholalaat (kesesatan-kesesatan).
  • Perselisihan, perpecahan, debat kusir dan bermusuhan dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala, penjelasan ini juga dijelaskan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.[3].

Marilah kita tinggalkan jalan-jalan yang menyimpang tersebut dan jangan sekali-kali kita mendekatinya, supaya kita tidak menyesal dan tidak binasa, kita pegang kuat-kuat jalan yang lurus demi keselamatan kita masing-masing.

Demikian apa yang bisa saya sampaikan semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan bagi ihwah semua, mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan, kekurangan dan kesalahan itu dari saya pribadi semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuninya dan jika ada benarnya itu berasal dari-Nya, semoga kita bisa mengamalkannya.

Saya juga berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga apa yang kita lakukan ini dijadikan sebagai pemberat timbangan kebaikan kita di sisi-Nya kelak. Amin.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

NB:

السنة هي ما أُضيف إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- من قول، أو فعل، أو تقرير، أو صِفة خَلقية أو خُلقية

Abu Layla Turahmin, M.H.

Sabtu, 23 Maret 2024

Jam, 12.46.


[1] . تفسير البغوي: الجزء: 2، الصفحة: 902

[2] . شرح رياض الصالحين لابن عثيمين، محمد بن صالح بن محمد العثيمي الجزء: 6، الصفحة: 248-275

[3] . تفسير الطبري جامع البيان عن تأويل القرآن، للإمام الطبري، الجزء: 9، الصفحة: 669-673

Tinggalkan komentar