NGALAP BERKAH KEPADA POHON, BATU DAN LAIN-LAIN

49 Pembaca

NGALAP BERKAH KEPADA POHON, BATU DAN LAIN-LAIN

أفرأيتم اللات و الغزى (19) ومناة الثالثة الأخرى (20) ألكم الذكر وله الأنثى (21) تلك إذا قسمة ضيزى )22) (النجم:19-22)

            Artinya: maka  apakah patut kamu (wahai orang-orang musyrik)  menganggap al-latta  dan ‘uzza (19) dan manat yang ketiga yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah) (20) apa (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? (21) yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil (22)  QS: An-najm: 19-22.

Penjelasan ayat

            Allah subhanahu wata’ala mengingkari berhala sesembahan orang-orang musyrik secara umum, pertama Allah subhanahu wata’ala mengingkari ketiga macam berhalanya orang-orang musyrik yaitu: latta yang ada di thoif, uzza yang ada di lembah nahlah yang terletak di antara mekkah dan thoif dan manat yang ada di musallal yang ada di qodid yang terletak antara mekah dan madinah. Allah subhanahu wata’ala menantang orang-orang musyrik, apakah berhala-berhala itu bermanfaat sehingga bisa menolak bahaya dan bisa mendatangkan manfaat ataukah hanya sekedar nama-nama yang di buat-buat oleh mereka yang Allah subhanahu wata’ala tidak pernah menurunkan dalil tentang berhala-berhala itu? Kemudian Allah subhanahu wata’ala mengingkari pembagian mereka yang tidak adil, seandainya pembagian itu terjadi diantara para makhluk yaitu dengan menjadikan apa yang tidak mereka senangi berupa wanita-wanita yang lemah untuk Allah ‘azza wajalla dan menjadikan apa yang mereka senangi berupa anak-anak laki-laki untuk mereka sendiri? Seandainya pembagian seperti itu terjadi di kalangan makhluk dan di anggap sebagai kedholiman lalu mengapa mereka menjadikannya untuk Allah azza wajalla? maha tinggi Allah subhanahu wata’ala dari apa yang mereka katakan dan maha suci Allah subhanahu wata’ala dari memiliki anak laki-laki maupun anak perempuan.    

Mutiara Ayat:

  1. Wajib mengingkari kemungkaran.
  2. Batalnya peribadahan kepada berhala.
  3. Wajib memaha sucikan Allah subhanahu wata’ala dari (memiliki) anak laki-laki maupun perempuan.
  4.  Rusaknya fitrah orang-orang musyrik karena mereka menisbatkan anak perempuan bagi Allah subhanahu wata’ala padahal mereka sendiri tidak suka dengan anak-anak perempuan dan mereka menyangka perbuatan itu bisa mendekatkan diri kepada-Nya.

Hubungan Ayat dengan Bab

            Ayat ini menunjukkan bahwa peribadahan yang di lakukan orang-orang musyrik kepada berhala, hanyalah bertujuan untuk sekedar mendatangkan manfaat dan menolak bahaya maka setiap orang yang ngalap berkah pada pohon atau kuburan ataupun makhluk yang lain dengan tujuan untuk mendatangkan manfaat dan menolak bala maka mereka telah menyerupai orang-orang musyrik dan masuk ke dalam kesyirikan yang mereka lakukan.

Kesimpulan

            Di katakan: lata adalah orang sholih yang dahulu (tugasnya) mengaduk tepung untuk jamaah haji, ketika beliau meninggal dunia orang-orangpun beriktikaf di kuburannya.

Di katakan: lata adalah batu item besar yang di pahat (berbentuk patung). Penggabungan antara kedua pendapat tersebut adalah lata adalah batu besar yang dipahat (berbentuk patung) yang ada di dekat makam (seseorang) di dalam sebuah bangunan, sehingga menjadi satu sesembahan khusus.

وعن أبي واقد الليثى قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى حنين و نحن حدثاء عهد بكفر وللمشركين سدرة يعكفون عنده و ينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط فمررنا بسدرة فقلنا يا رسول الله أجعل لنا ذات أنوات كما لهم ذات أنواط فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم الله أكبر إنها السنن قلتم و الذي نفس بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى إجعل لنا إله كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون لتركبن سنن من كان قبلكم)) رواه الترميذي و صححه

            Artinya: Dari abu waqid Al-laysi radhiyallahu ‘anhu berkata:”Kami berangkat ke perang hunain bersama Rosulullahi shollallahu ‘alaihi wasallam, pada waktu itu kami baru saja masuk islam, sementara orang-orang musyrik mempunyai pohon bidara yang biasa di jadikan tempat ngalap berkah dan tempat menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon itu di sebut zatu anwat.

Lalu kami melewati sebatang pohon bidara dan kami berkata kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosulullah buatkanlah untuk kami zatu anwat sebagaimana mereka  (orang-orang musyrik itu)  memiliki zatu anwat”.

 Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Allahu akbar… itu adalah jalannya (orang-orang musyrik), demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya!! perkataanmu itu adalah sama dengan perkataan orang-orang Bani Israel kepada musa: “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan”.

Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah kaum yang jahil, kamu benar-benar akan mengikuti jalannya orang-orang sebelum kamu”. HR tirmizi dan beliau menshohihkan hadis ini.

Penjelasan Hadis

            Abu waqid al-laisi rodhiyallahu’anhu mengabarkan kepada kita bahwa beliau pernah menyertai Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan ke perang hunain, mereka (abu waqid al-laisi dan sahabat-sahabat yang lain radhiyallahu ‘anhum) mengetahui bahwa orang-orang musyrikin mempunyai pohon bidara yang di jadikan sebagai tempat untuk ngalap berkah, mereka (orang-orang musyrik) berdiam di situ (untuk ngalap berkah), sementara sebagian sahabat baru saja masuk islam, pengetahuan mereka belum meliputi wejangan-wejangan (arahan-arahan) Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka meminta kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam supaya membuatkan untuk mereka pohon bidara sebagai tempat ngalap berkah seperti milik orang-orang musyrik, (mendengar permintaan tersebut) beliau merasa sangat heran, kemudian beliau bertakbir dan memahasucikan Allah dari permintaan itu. Lalu Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada mereka bahwa permintaannya itu sama dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Nusa ‘alaihissalam, yaitu ketika mereka meminta agar di buatkan sesembahan selain Allah subhanahu wata’ala setelah sebelumnya Dia  telah menyelamatkan mereka dari fir’aun dan kaumnya. Kemudian beliau juga mengabarkan bahwa kelak umat islam akan melakukan semua amalan yang di lakukan oleh orang-orang yahudi dan nasrani termasuk syirik.

Mutiara Hadis:

  1. Disunnahkan untuk menampakkan sesuatu yang bisa menghindarkan diri dari gunjingan (ghibah). dalilnya adalah perkataan mereka “Dan kami baru saja terlepas dari kekafiran”.
  2. Sulitnya menghilangkan adat kebiasaan yang ada pada diri seseorang.
  3. Iktikaf termasuk jenis ibadah.
  4. Adanya uzur bagi orang yang tidak tahu karena kejahilannya, apabila setelah mengetahui ilmunya ia mau meninggalkannya.
  5. Haram tasyabbuh dengan orang-orang musyrik jahiliyah dan orang-orang kafir yang lainnya.
  6. Boleh mengucapkan Allahu akbar ketika merasa heran atau kagum.
  7. Wajib melakukan antisipasi.
  8. Kesyirikan kelak akan terjadi pada umat ini.
  9. Boleh bersumpah ketika berfatwa.
  10. Boleh bersumpah tanpa di minta jika ada maslahatnya.
  11. Umat ini akan melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang di lakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
  12. Celaan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah peringatan bagi kita

Hubungan Hadis dengan Bab

            Hadis ini menunjukkan bahwa menjadikan pohon sebagai tempat ngalap berkah dan sebagai tempat iktikaf di sekitarnya adalah syirik, termasuk dalam hal itu adalah segala sesuatu yang di jadikan sebagai tempat ngalap berkah, baik pohon, batu, kuburan dan lain-lain.

Ringkasan

            Di akhir zaman sekarang ini banyak orang yang bertabaruk (ngalap berkah) dengan keringat orang-orang sholih, mengusap-usap mereka dan baju-baju mereka dan bertabaruk dengan tahnik (tahnik adalah mengunyah makanan kemudian di suapkan ke bayi) mereka, (perbuatan ini) mereka kiaskan dengan perbuatan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Perbuatan itu adalah perbuatan batil karena perbuatan seperti itu hanya khusus untuk Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bukan untuk selain beliau. Dalilnya adalah para sahabat tidak pernah melakukan hal itu terhadap sahabat-sahabat yang lain baik semasa mereka masih hidup maupun setelah mereka meninggal dunia, padahal para sahabat adalah orang yang paling semangat mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu “alaihi wa sallam.

Abu Layla Turahmin, M.H.

Diterjemahkan dari Kitab Al-Jadid, Syarah Kitab Tauhid.

Tinggalkan komentar