Niat

87 Pembaca

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال، سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول، إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله،  ومن كانت هجرته للدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه. رواه البخاري ومسلم

Dari Amirul mukminin Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niat-niatnya dan setiap orang akan mendapat (pahala) sesuai apa yang menjadi niatnya, barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-nya, namun barangsiapa yang hijrahnya itu kepada dunia atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ia yang ia hijrahi.” HR: Bukhori dan Muslim.
 

Penjelasan

Dalam hadis tersebut Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan tentang urgensi niat dalam setiap amal perbuatan yang dilakukan seseorang, bahkan niat itu merupakan salah satu syarat diterimanya amal ibadah yang dikerjakan. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis tersebut memberikan contoh amal ibadah yang sangat agung yaitu hijrah meninggalkan kota Mekah ke Madinah, berhijrah meninggalkan kampung halaman tempat yang penuh kenangan, tempat yang sangat dicintai, tempat yang sangat dirindukan dan tempat kelahiran, tentu merupakan sesuatu yang sangat berat, tidak semua orang mampu melakukannya, apalagi harus meninggalkan keluarga tercinta, karib kerabat dan sahabat-sahabat. orang yang mampu melakukan hijrah tentu merupakan orang yang luar biasa hebat.

Orang yang pada saat itu mampu melakukan hijrah meninggalkan Kota Mekah ke Madinah berarti ia telah melakukan sebuah ibadah yang sangat agung dan mulia serta pahalanya sangat besar. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis tersebut menetapkan syarat supaya ibadah agung itu diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala harus didasari dengan niat yang benar, yaitu ikhlas karena Allah subhnahu wa ta’ala semata bukan karena sesuatu yang lain.

Dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa yang hijrahnya dari Mekah ke Madinah kepada Allah dan Rasulnya atau dalam rangka ikhlas mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam, maka akan mendapat pahala yang sangat besar terbukti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi balasan hijrah tersebut dengan kalimat yang sama yaitu hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Namun jika hijrahnya itu bukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya (tidak ikhlas, bukan karena mengikuti ajakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan untuk taqorrub kepada Allah) tapi hijrahnya itu karena tujuan dunia semata atau untuk menikahi wanita yang dicintainya maka hijarahnya tidak bernilai pahala di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, terbukti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebutkan balasanya dengan mengatakan maka hijrahnya itu kepada apa yang ia tuju yaitu dunia atau wanita yang ingin dinikahinya yang belum tentu mampu didapat.

Mutiara Hadis

  1. Pentingnya niat, sehingga setiap orang hendaknya selalu memperhatikan niatnya setiap kali beramal supaya mendapat pahala di sisi Allah subhanhau wa ta’ala.
  2. Niat merupakan salah satu syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Niat yang beribadah niatnya ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala akan mendapat pahala di sisi-Nya.
  4. Orang yang melakukan ibadah dengan niat karena dunia atau bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala maka amalannya akan tertolak dan dunia yang diharapkannya belum tentu diperoleh.
  5. Sebelum seseorang mengerjakan ibadah hendaknya menghadirkan niat yang benar terlebih dahulu semakin baik niatnya maka pahalanya akan semakin besar.
  6. Amal ibadah yang dikerjakan bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala merupakan tujuan yang sangat hina.

Nantikan penjelasan hadis berikutnya yang tentu sangat banyak faidah-faedah yang bisa diperoleh.

Tinggalkan komentar