Persiapan Berburu Lailatul Qodar

33 Pembaca

Persiapan Berburu Lailatul Qidar

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

قال الله تعالى في القرآم الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman, dan nikmat Islam, yang merupakan nikmat terbesar yang diberikan kepada kita, dan tidak semua orang diberikan nikmat tersebut, karena Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikannya kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Kedua nikmat ini harus kita jaga dengan baik dan tidak boleh kita tukar dengan apapun yang ada di dunia ini hingga ajal menjemput kita.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya kita bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita, hendaknya kita tunduk dan patuh kepada-Nya dengan benar-benar bersyukur kepada-Nya dan jangan sampai kita kufur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim: 7,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).

Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah berfirman,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung kenikmatan-kenikmatan Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).

Ayat ini menegaskan kepada kita semua bahwa nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah diberikan kepada kita sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya, bahkan kita tidak akan mampu untuk menghitungnya dengan alat apapun, hal ini lebih menegaskan kepada kita supaya kita benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam bersyukur kepada-Nya jangan sampai kita menjadi orang-orang yang ingkar.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada baginda Nabi kita yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan tema “Persiapan Berburu Lailatul Qadar“. 

Lailatul qodar merupakan sesuatu yang tidak asing bagi kita, kita sering sekali mendengar para dai menyebut-nyebut lailatul qodar, menjelaskan tentang keistimewaan lailatul qodar, Dorongan untuk berburu lailatul qodar dan kiat-kiat untuk meraih lailatul qodar dengan pahala yang melimpah,

Pada kesempatan pengajian berbuka puasa di sore hari ini, Jum’at 22 Maret 2024 bertepatan dengan tanggal 11 Ramadhan 1445 H saya akan menyampaikan ulang apa yang telah disampaikan oleh para dai tersebut, karena permasalahan itu sangatlah penting dan bisa menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung di bulan Ramadhan ini dengan meraih pahala yang melimpah sehingga bisa keluar dari bulan Ramadhan dengan membawa keuntungan yang sangat besar.

Keistimewaan Lailatul Qodar

Bulan Ramadhan yang merupakan bulan paling mulia di dalamnya terdapat satu malam yang disebut dengan nama lailatul Qadar, lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa yaitu: pada malam tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Quran ke langit dunia, pada malam tersebut amal ibadahnya, puasanya dan salat malamnya lebih baik daripada seribu bulan, pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi, pada malam tersebut terdapat kesejahteraan selamat dari berbagai macam keburukan sampai terbitnya fajar, dan malam tersebut hanya ada pada bulan Ramadhan , Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul qadar.

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

Tahukah kamu apakah Lailatul qadar itu?

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ

Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْر

Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar. QS: Al-Qadr: 1-5.

Dalam surat Al-Qadar tersebut Allah subhanhu wa ta’ala menjelaskan tentang keistimewaan lailatul qodar, hendaknya kita bersemangat untuk meraih lailatu qadar tersebut mumpung kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan yang belum tentu tahun berikutnya kita akan berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan yang mulia ini.

Dalil-Dlail Dorongan Berburu Lailatul Qodar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendorong kita supaya mengerahkan kemampuannya secara optimal untuk mendapatkan lailatul qadar tersebut, hal ini menunjukkan bahwa lailatul qodar terjadi setiap bulan Ramadhan, di antara dalil yang menunjukkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berburu lailatul qadar adalah sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (‌تَحَرَّوْا ‌لَيْلَةَ ‌الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ، مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَنَ). أخرجه البخاري: الجرء: 2، الصفحة: 710، الرقم: 1913

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah lailatul qodar pada malam ganjil sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan). HR: Bukhori, Juz: 2, Hal: 710, Nomor: 1913.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَيَقُولُ: (‌تَحَرَّوْا ‌لَيْلَةَ ‌الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ).أخرجه البخاري: الجرء: 2، الصفحة: 710، الرقم: 1916

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang sepuluh terakhir bulan Ramadhan bersabda: “Carilah lailatul qodar pada malam ganjil sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan).” HR: Bukhori, Juz: 2, Hal: 710, Nomor: 1916.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِصلى الله عليه وسلم: – قَالَ: ابْنُ نُمَيْرٍ-الْتَمِسُوا-وَقَالَ: وَكِيعٌ: ‌تَحَرَّوْا ‌لَيْلَةَ ‌الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.أخرجه مسلم: الجرء: 3، الصفحة: 173، الرقم: 1169

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ibnu Numair berkata: -iltamisu- Waki’ berkata: (Takharrau) “Carilah lailatul qadar pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. HR: Muslim: Juz: 3, Hal: 173, Nomor: 1169.

Dari hadis-hadis tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita semua supaya berburu lailatul qadar karena memang di malam tersebut terdapat keistimewaan luar biasa yang tidak didapati pada malam-malam yang lain, oleh karena itu marilah kita berlomba-lomba untuk mendapatkan lailatul qadar tersebut dengan ibadah-ibadah yang banyak dan maksimal, seperti: puasa, shalat malam, membaca al-Qur’an, berdzikir, bersedekah dan lain-lain. Kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya berkenan mempertemukan kita semua dengan malam lailatul qadar ini dan mampu mamaksimalkan ibadah di malam tersebut.

Kiat-kiat Berburu Lailatul Qodar

Niat

Pertama sekali sebelum kita memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan untuk berburu lailatul qadar, hendaknya kita selalu memantau niat kita ketika beribadah kepada Allah subhanhau wa ta’ala, kita luruskan niat kita dalam beribadah hanya untuk melaksanakan malaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, ikhlas (lillah) hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala semata, dalam rangka ittiba’ (meneladani) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan untuk taqrrub (mendekatkan diri) kepada Alla subhanahu wa ta’ala. Karena amal ibadah yang kita kerjakan akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala jika didasari niat yang benar, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ. سورة البينة: 5

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). QS: Al-Bayyinah: 5.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا ‌الْأَعْمَالُ ‌بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى. متفق عليه

“Sesungguhnya setiap amalan itu hanya tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan balasan sesuai niatnya.” Muttafaqun ‘Alaih.

Berdoa

Doa merupakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita semua, kita harus selalu menyandarkan setiap keinginan kita dengan memperbanyak berdoa kepada-Nya, termasuk ketika kita ingin berburu lailatul qadar, kita harus mohon kepada-Nya supaya dipertemukan dengan malam tersebut, dan diberi kemampuan untuk melaksanakan ibadah-ibadah secara maksimal dan berfariasi, yang ibadah ibadah itu didasari dengan niat yang benar.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ. سورة غافر: 60

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” QS: Ghofir: 60.

Menjaga kesehatan

Menjaga kesehatan mutlak harus kita lakukan, supaya kita bisa bertemu dengan lailatul qadar dalam keadaan sehat wal afiat, karena kalau kita tidak menjaga kesehatan diri kita, bisa jadi kita bertemu dengan malam tersebut dalam keadaan sakit, sehingga tidak bisa memaksimalkan potensi ibadah kita di malam tersebut sehingga kita menjadi orang-orang yang merugi.

kita harus menjaga kesehatan kita dengan cara, mengatur pola makan yang baik, berbuka dan sahur mengikuti cara yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidur yang cukup, makan-makanan yang sehat dan bergizi namun jangan berlebihan, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ. سورة البقرة: 172

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya. QS: Al-Baqarah: 172.

Membiasakan Memperbanyak Ibadah Sejak Masuk Bulan Ramadhan

Supaya kita tidak kesulitan untuk memaksimalkan ibadah-ibadah kita di malam lailatul qadar, hendaknya kita melatih diri kita dengan membiasakan memperbanyak ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala sejak masuk bulan Ramadhan dan berusaha istiqomah dalam mengerjakannya, seperti, memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, memparbanyak salat-salat sunah, memperbanyak sedekah dan lain-lain.

Sebab jika seseorang telah terbiasa berlatih memperbanyak ibadah-ibadah di bulan Ramadhan ketika masuk lailatul qadar ia ringan dan mudah untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut dengan maksimal, idtiqomah dan mampu mengerahkan semua potensi yang ada untuk beribadah kepada-Nya sehingga ia bisa sukses mendapatkan lailatul qadar tersebut.

Mengatur Waktu dengan Baik

Kemampuan mengatur waktu dengan baik akan sangat mendukung kesuksesan seseorang dalam berburu lailatul qadar, terutama menjaga pola tidur usahakan setiap siang hari ada waktu khusus untuknya tidaur siap supaya ketika malam hari tidak mengantuk sehingga bisa digunakan untuk memaksimalkan ibadah pada malam tersebut.

Biasanya orang yang tidak tidur pada siang hari malam harinya akan merasa lelah dan mengantuk yang akhirnya ia hanya akan tidur di malam hari.

Raulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan kepada kita supaya kita tidur siang, dalam sebuah hadis beliau bersabda,

عن أنس رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: قيلوا فإن الشيطان لا يقيل. الجامع لإحكام القرآن: الجزء: 13، الصفحة: 23

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidur sianglah kalian karena sesungguhnya setan tidak tidur siang. HR: Thabrani, Al-Jami’u liakhkamil Qur’an, Juz: 13, Hal: 23.

Hadis ini menunjukkan pentingnya seseorang tidur siang terlebih lagi setelah memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan hendaknya ia membiasakan tidur siang supaya pada malam harinya tidak mengantuk sehingga mampu berburu lailatul qadar dengan baik dan dalam keadaan mampu memaksimalkan ibadah-ibadahnya di malam tersebut,

Demikian penjelasan tentang Persiapan Berburu Lailatul qadar semoga bisa bermanfaat, bagi saya pribada dan bagi ihwah sekalian, mohon maaf jika ada kesalahan, kesalahan itu dari saya pribadi semoga Allah subhanahu wa ta’ala memaafkannya dan jika ada kebenaran yang kebenaran itu dari Allah subhanahu wa ta’ala semoga kita bisa mengamalkannya.

Saya juga berdoa semoga pengajian ini dijadikan sebagai pemberat timbangan kebaikan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abu Layla Turahmin, M.H.

Jum’at, 22 Maret 2023

Jam, 14,43.

Tinggalkan komentar